Kuliah Umum Magister Manajemen FEB UI, Entrepreneurial Ecosystem: The Role of Universities

Kuliah Umum Magister Manajemen FEB UI, Entrepreneurial Ecosystem: The Role of Universities

 

Rifdah Khalisha – Humas FEB UI

DEPOK – (13/6/2022) Magister Manajemen (MM) FEB UI bersama Maastricht School of Management (MSM) mengadakan kuliah umum bertajuk “Entrepreneurial Ecosystem: The Role of Universities” pada Senin (13/6). Menghadirkan pembicara Dr. Ir. Huub L. M. Mudde, Ph.D. (Senior Project Consultant and Assistant Professor at MSM) dan Arief Wibisono Lubis, Ph.D. (Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Kemahasiswaan). Acara berlangsung secara hybrid, di Pegadaian Room, FEB UI Kampus Salemba.

Arief mengungkapkan, “Menurut Global Entrepreneurship Index (GEI), saat ini Indonesia berada di posisi ke-75 dari 137 negara. Padahal, kewirausahaan merupakan kunci bagi Indonesia untuk bertumbuh menjadi negara maju. Bahkan, Presiden Jokowi menyatakan, salah satu syarat negara maju adalah jumlah wirausahanya harus mencapai setidaknya 14% dari jumlah penduduk.”

“Sementara di Indonesia, relatif masih tergolong rendah, hanya 3,47%. Oleh karena itu, kita butuh akselerasi. Indonesia belum bisa bersaing pada skala internasional karena rendahnya ketertarikan penduduk di bidang kewirausahaan. Padahal, Malaysia, Singapura, Thailand sudah mencapai nilai rata-rata 4%,” imbuhnya.

Beranjak dari masalah itu, Mudde melalui kuliah umum ini berusaha menguraikan bahwa ekosistem kewirausahaan menunjukkan komunitas yang saling berhubungan antara berbagai komponen untuk mendukung wirausahawan baru.

Kemudian, Mudde mengutarakan, “Pada prinsipnya, sudah banyak wirausaha di Indonesia, bahkan akan mudah menemuinya di mana pun. Namun, mereka kurang teredukasi bisnis. Kita bisa melihat Gojek, kewirausahaan yang berhasil menciptakan perubahan luar biasa pada dunia transportasi, pendirinya paham akan inovasi, jaringan, sikap, dan keterampilan kewirausahaan.”

International Labour Organization (ILO) pada 2020 mencatat, tingkat pengangguran kaum muda Indonesia telah mencapai 14,5%. Melihat angka tersebut, keberadaan wirausaha semakin penting sebagai solusi mengatasi masalah pengangguran. Terlebih, Indonesia perlu mempercepat pembangunan ekonomi, dari negara berpenghasilan menengah ke ekonomi berbasis inovasi.

Ia melanjutkan, “Semua upaya akan berjalan baik apabila penduduk telah teredukasi, maka kita butuh peran universitas. Fokus utamanya adalah mendorong pendidikan dan perilaku kewirausahaan untuk para mahasiswa, yakni tahap motivasi dan inovasi. Inilah fondasi dasar untuk mencetak calon wirausaha baru.”

“Dengan begitu, saat seseorang nantinya berstatus karyawan, ia akan lebih siap memasuki fokus penciptaan usaha melalui tahap persiapan, penelitian, pembinaan, pendirian, hingga terjun dalam bidang kewirausahaan,” tandas Mudde.

     

Universitas menjalankan peran penting dalam pembangunan ekonomi sebagai penyedia bagi wirausahawan muda terampil yang berpengetahuan tinggi. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa inovasi di Indonesia butuh lebih banyak investasi di bidang pendidikan dan peningkatan berbagi pengetahuan.

Kegiatan wirausaha tidak serta merta mengubah universitas, harus ada visi khusus di balik ‘universitas kewirausahaan’ atau entrepreneurial university, yakni berkontribusi melalui pengetahuan untuk pembangunan sosial-ekonomi di wilayah atau komunitas sekitar.

Lebih dari menginisiasi, universitas perlu memberikan dukungan penuh berupa pengembangan keterampilan, pendampingan, pemberian akses ke keuangan, hingga pelibatan aktif para alumni universitas. Intinya, program pendidikan kewirausahaan yang mendorong mahasiswa sebagai pencipta pekerjaan, bukan pencari kerja.

“Kursus kewirausahaan saja tidak cukup. Universitas kewirausahaan harus strategis diarahkan pada kegiatan kewirausahaan yang terkait dengan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat serta kemitraan operasional yang saling menguntungkan dengan sektor swasta. Jadi, merangsang bisnis startup siswa sekaligus mendorong pembangunan,” pungkasnya mengakhiri. (hs)