Promosi Doktor PPIE FEB UI: Contagion, Interdependence, and Spillover Effect Analisis Komparasi Krisis Asia dan Krisis Keuangan Global melalui Saluran Keuangan serta Dampak dan Respon Kebijakan Moneter di 5 Negara ASEAN (DCC Garch–Gvar Model)

Promosi Doktor PPIE FEB UI: Contagion, Interdependence, and Spillover Effect Analisis Komparasi Krisis Asia dan Krisis Keuangan Global melalui Saluran Keuangan serta Dampak dan Respon Kebijakan Moneter di 5 Negara ASEAN (DCC Garch–Gvar Model)

 

Rifdah Khalisha – Humas FEB UI

DEPOK – (11/1/2022) Program Pascasarjana Ilmu Ekonomi (PPIE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, menggelar sidang terbuka Promosi Doktor Nuning Trihadmini (1306435543), secara daring, pada Selasa (11/1). 

Sidang Promosi Doktor ini diketuai oleh Prof. Nachrowi D. Nachrowi, Ph.D. dengan pembimbing Prof. Anwar Nasution, Ph.D. (Promotor), Dr. Telisa Aulia Falianty (Ko-Promotor I), Iman Sugema, Ph.D. (Ko-Promotor II). Selaku tim penguji, Prof. Nachrowi D. Nachrowi, Ph.D. (Ketua Penguji), Febrio Kacaribu, Ph.D., Sugiharso Safuan, Ph.D., Fithra Faisal Hastiadi, Ph.D., dan Dr. Edi Prio Pambudi.

Pada sidang terbuka ini, Promovenda Nuning Trihadmini mengangkat disertasinya yang berjudul “Contagion, Interdependence, and Spillover Effect Analisis Komparasi Krisis Asia dan Krisis Keuangan Global melalui Saluran Keuangan serta Dampak dan Respon Kebijakan Moneter di 5 Negara Asean (DCC Garch–Gvar Model)” 

Motivasi utama penelitian ini didasarkan atas fakta bahwa terjadinya krisis Asia dan krisis keuangan global akibat adanya risiko sistemik dari global network yang akhirnya menyebabkan krisis menyebar cepat dan luas dalam waktu singkat.

Nuning menerangkan, “Penelitian bertujuan menganalisis komparasi krisis Asia dengan krisis keuangan global dalam aspek pola penularan (contagion, interdependence, dan spillover), baik secara intra maupun inter asset price, dan analisis respons kebijakan moneter.”

Menurutnya, penelitian contagion dan spillovers effect melalui saluran keuangan sangat penting mengingat beberapa episode krisis yang melanda dunia dapat terjadi karena adanya pertalian keuangan antar negara.

Pengujian Contagion dan Interdependence menggunakan metode Dynamic Conditional Correlation (DCC)–GARCH dari data harian. Sementara itu, pengujian Spillover, Generalized Impuls Respons Function (GIRF), dan Respons Kebijakan, menggunakan model Global VAR (GVAR) dengan data bulanan. Periode analisis mulai Januari 1995 hingga Maret 2018.

Nuning mengungkapkan, “Terdapat persamaan dan perbedaan pola penularan antara krisis Asia, dengan krisis keuangan global. Beberapa persamaan, di antaranya (i) perambatan shock intra asset price lebih besar dibandingkan inter asset price, (ii) common cycle yaitu penularan krisis cenderung terjadi dalam periode yang pendek dan berulang, (iii) interdependence pada nilai tukar, dan (iv) depresiasi nilai tukar rupiah paling tajam di antara mata uang negara ASEAN pada dua periode krisis.”

Adapun, perbedaan kedua krisis adalah pada krisis Asia, terjadi interdependence intra asset price pada suku bunga overnight (O/N), nilai tukar, dan interdependence terbatas pada indeks saham. Pada krisis Asia, suku bunga O/N memiliki degree of co-movement paling besar, baik intra asset price, inter asset price, maupun intra ASEAN.

Pada krisis keuangan global, terjadi asimetri interdependence pada nilai tukar, yakni interdependence negatif sebelum krisis keuangan global (mata uang ASEAN menguat pada 2005–2007) lebih kecil dibandingkan dengan interdependence positif saat krisis keuangan global (mata uang ASEAN mengalami depresiasi).

Juga pada krisis keuangan global, nilai tukar menunjukan co-movement paling besar. Ada pertalian kuat antara nilai tukar dengan indeks saham, tetapi shock nilai tukar memiliki efek lebih besar dan bertahan dalam jangka panjang.

Di antara variabel riil, inflasi menerima efek limpahan paling besar pada kedua krisis. Namun, pada krisis Asia efeknya lebih eksplosif. Penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) saat krisis Asia lebih banyak karena efek limpahan dari public debt, sedangkan saat krisis keuangan global karena nilai tukar.

Respons kebijakan moneter Tight Money Policy pada krisis Asia, lebih efektif dalam jangka panjang (1–2 tahun), sedangkan respons kebijakan stabilisasi pada krisis keuangan global lebih efektif dalam jangka pendek. 

Akhir kata, penelitian berkontribusi pada 4 asset price pada krisis keuangan global, yaitu indeks saham (stock price), nilai tukar atau currencies (foreign exchange price), obligasi (bond prices), dan short term funds (money price).

Dewan Pimpinan sidang terbuka promosi doktor memutuskan, Nuning Trihadmini (1306435543) lulus dengan predikat Sangat Memuaskan dan berhasil meraih gelar Doktor yang ke-127 Bidang Ilmu Ekonomi. Selamat kepada Dr. Nuning Trihadmini! (hjtp)