Seri Kuliah Umum MEKK FEB UI, Forum Pembangunan Indonesia: Demography of Ethnicity

Seri Kuliah Umum MEKK FEB UI, Forum Pembangunan Indonesia: Demography of Ethnicity

 

Rifdah Khalisha – Humas FEB UI

DEPOK – (26/11/2021) Evi Nurvidya Arifin, Ph.D. (Peneliti Lembaga Demografi FEB UI dan Anggota Dewan Penasehat Internasional Journal of Asia Population Studies) menjadi pembicara dalam Seri Kuliah Umum Magister Ekonomi Kependudukan dan Ketenagakerjaan (MEKK) FEB UI, mata kuliah Forum Pembangunan Indonesia, dengan topik “Demography of Ethnicity” secara daring, pada Kamis (26/11).

Evi memaparkan penelitian bersama timnya. Konsep etnis menurut Bhopal (2004), etnisitas atau kesukuan adalah kualitas multi-faceted yang mengacu pada kelompok saat seseorang menjadi dan/atau dianggap bagian, sebagai akibat dari karakteristik bersama tertentu, termasuk asal geografis dan leluhur, khususnya tradisi budaya dan bahasa.

Sementara Baumann (2004) dan Ratcliffe (2010) menyatakan, kesukuan seseorang bersifat sukarela, artinya seseorang dapat mengubah identitas etnisnya jika merasa lebih dekat dengan kelompok etnis barunya, melalui perkawinan silang, pertukaran budaya, perubahan politik, perpindahan penduduk, atau pembauran kebudayaan.

“Identitas etnis mungkin bersifat cair atau mudah berubah, tidak statis dari waktu ke waktu. Meski ras dan etnis sebenarnya berbeda, kedua konsep ini masih tumpang tindih sehingga sering digunakan secara sinonim. Umumnya, stratifikasi ras berasal sejak lahir, berdasarkan karakteristik fisik dan budaya, jadi seseorang tidak dapat mengubah rasnya. Di sisi lain, etnis pun berasal sejak lahir, tetapi seseorang dapat menentukan karakteristik budayanya sendiri,” jelas Evi.

Penelitian menggunakan pendekatan identitas diri, mengajukan pertanyaan terbuka kepada responden untuk menyebutkan kelompok etnis (suku bangsa). Dengan begitu, asumsinya lebih konsisten.

Ia mengungkapkan, “Kami menggunakan ‘klasifikasi baru’ kelompok etnis milik Ananta, Arifin, Hasbullah, Handayani, dan Pramono (2015). Meski sempat menemukan beberapa isu, tetapi kami berhasil mengklasifikasikan setidaknya 633 kelompok dari 1.331 kategori etnis, berdasarkan data sensus penduduk 2010 dan beberapa studi sosiologis-antropologis. Selain itu, kami mengambil kumpulan data Sensus Penduduk Indonesia pada 2010 milik Badan Pusat Statistik.”

Dalam pengukuran keragaman etnis, penelitian berfokus pada persentase suara terbanyak, distribusi etnis, indeks fragmentasi etnis, indeks polarisasi etnis, dan pemetaan geografis.

Kemudian, Evi membagikan beberapa temuan penelitiannya. Indonesia secara keseluruhan memiliki indeks fragmentasi etnis relatif tinggi sebesar 0,81 persen, berarti ada banyak sekali suku bangsa yang berbeda di Indonesia.

Namun, indeks polarisasi etnis hanya sebesar 0,50 persen, berarti tidak terlalu terpolarisasi karena tidak ada dua kelompok etnis yang berukuran hampir sama di Indonesia. Suku Jawa menyumbang 40,06 persen, sedangkan suku Sunda sebagai suku terbesar kedua hanya menyumbang 15,51 persen.

Provinsi Jawa Tengah paling homogen, lebih dari 95 persen penduduknya adalah suku Jawa. Provinsi ini paling sedikit terfragmentasi dan paling tidak terpolarisasi. Sementara Provinsi Maluku Utara paling heterogen, suku Tobelo sebagai suku terbesar hanya menyumbang 10,78 persen penduduk. Provinsi ini paling terfragmentasi, tetapi tidak terpolarisasi.

“Indonesia adalah negara kepulauan raksasa, dengan begitu banyak kelompok etnis dan unit administrasi yang berbeda, terutama lebih dari 500 kabupaten. Setiap daerah—baik provinsi, kota, maupun kabupaten—memiliki ciri khas sukunya. Indonesia adalah negara multietnis dengan tingkat fragmentasi yang tinggi tetapi polarisasi yang lebih sedikit. Keragamannya adalah aset, bukan kewajiban,” ujarnya menutup sesi.