Kuliah Umum Perekonomian Indonesia: Pembangunan Holistik dengan Menerapkan Prinsip SDGs

Kuliah Umum Perekonomian Indonesia: Pembangunan Holistik dengan Menerapkan Prinsip SDGs

 

Nino Eka Putra ~ Humas FEB UI

DEPOK – (24/11/2021) Departemen Ilmu Ekonomi (IE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) menghadirkan Guru Besar FEB UI, Prof. Bambang P.S. Brodjonegoro, Ph.D., menjadi narasumber dalam Kuliah Umum Perekonomian Indonesia, bertajuk “Pembangunan Holistik dengan Menerapkan Prinsip Sustainable Development Goals (SDGs)” pada Rabu (24/11/2021). Kuliah dipandu Fauziah Zen, Ph.D., Dosen Departemen IE FEB UI.

Di dalam pemaparannya, Prof. Bambang menjelaskan konsep SDGs yang merupakan suatu rencana aksi global dan disepakati oleh para pemimpin dunia, termasuk Indonesia mengenai pembangunan yang menjaga peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat secara berkesinambungan guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan ketimpangan pendapatan, membangun infrastruktur, memberikan pelayanan dasar memadai (pendidikan, kesehatan, dan sebagainya), dengan memperhatikan kualitas lingkungan hidup.

Perkembangan ekonomi di Indonesia terus tumbuh tidak hanya secara ekonomi tetapi membaik dari segala aspek. Dari sinilah, Indonesia berakselerasi tinggi terhadap pembangunan menuju visi Indonesia Maju 2045 yang bertepatan dengan merayakan 100 tahun kemerdekaan dan berkomitmen untuk keluar dari middle income trap menjadi high income trap yang diikuti zero poverty.

Menurut Prof. Bambang, suatu negara bisa dikatakan negara maju apabila pertumbuhan ekonomi relatif tinggi dan bisa memberikan kesejahteraan kepada masyarakatnya dengan akselerasi pembangunan yang inklusif. Selain itu, negara maju tidak boleh ketergantungan ekonomi terhadap sumber daya alam secara terus-menerus. Maka, harus bertumpu pada kemampuan/kekuatan yang dimiliki sumber daya manusia (SDM) untuk pembangunan ekonomi.

“Di satu sisi, seluruh negara termasuk negara maju berkomitmen untuk melakukan pembangunan yang berkelanjutan atau SDGs dengan memperhatikan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. SDGs merupakan visi bersama dengan memegang prinsip universal, integrasi, dan no-one left behind yang menyasar 5P (People, Prosperity, Planet, Peace, Partnership),” jelas Prof. Bambang.

SDGs memiliki 17 tujuan yang mencakup lingkungan global dan tujuan tersebut memiliki 169 target yang akan dijadikan tuntunan kebijakan serta pendanaan hingga 15 tahun ke depan yang diharapkan akan selesai pada 2030. Adapun 17 tujuan SDGs meliputi (1) tanpa kemiskinan; (2) tanpa kelaparan; (3) kehidupan sehat dan sejahtera; (4) pendidikan berkualitas; (5) kesetaraan gender; (6) air bersih dan sanitasi layak; (7) energi bersih dan terjangkau; (8) pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi; (9) industri, inovasi dan infrastruktur; (10) berkurangnya kesenjangan; (11) kota dan komunitas berkelanjutan; (12) konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab; (13) penanganan perubahan iklim; (14) ekosistem laut; (15) ekosistem darat; (16) perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh; dan (17) kemitraan untuk mencapai tujuan.

Untuk mencapai visi negara maju 2045, papar Prof. Bambang, Indonesia harus mempunyai kebijakan yang baik dengan menyasar beberapa tujuan dalam SDGs. Mencapai target SDGs dibutuhkan kontribusi dari seluruh aktor pembangunan (pemerintah, swasta, akademisi, masyarakat, media) dengan prinsip kemitraan yakni membangun kepercayaan, equal partnership, partisipasi aktif, akuntabel, dan saling menguntungkan. Dari semua aktor pembangunan, sektor swasta lah yang berkontribusi paling dominan dalam pencapaian SDGs, diantaranya berkomitmen, memastikan sumber pendanaan, menyelaraskan SDGs, peningkatan kapasitas, membangun kemitraan, dan diseminasi informasi.

“Oleh karena itu, aktivitas ekonomi terus ditingkatkan untuk membuka lapangan pekerjaan tetapi daya dukung ekologi/lingkungan harus dijaga atau gunakan teknologi agar pertumbuhan ekonomi bisa seiring dengan daya dukung lingkungan. Ketika kita membangun harus memprioritaskan pemenuhan infrastruktur dasar dan kesejahteraan masyarakat. Maka, integrasi ekonomi, sosial, dan lingkungan sudah menjadi filosofi dari negara maju yang Indonesia harapkan bisa terwujud di tahun 2045,” demikian Prof. Bambang menutup sesinya.