Bakas Ongko Manaharep Covid-19

Bakas Ongko Manaharep Covid-19

Terjemahan ”Lansia Menghadapi Covid-19” ke dalam bahasa Dayak, Kalimantan Tengah.

Warga lanjut usia bertambah dan mengalami persoalan tersembunyi. Sistem pendukung meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas penduduk lanjut usia.

 

KOMPAS – (28/10/2021) Prof. Emil Salim di usia 91 tahun dengan runtut menyampaikan pikiran berjudul “Pembangunan: Mencerdaskan Bangsa” dalam Widjojo Nitisastro Lecture keempat. Sebagai anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), dia menjelaskan tantangan Indonesia di tengah perubahan besar global.

Ketajaman analisis Prof. Emil Salim mengundang kekaguman. Hal itu dinyatakan Wakil Ketua AIPI Prof Sofian Effendi saat menutup kuliah daring, Rabu (13/10/2021).

Warga lansia Indonesia bertambah seiring naiknya usia harapan hidup. Namun, menurut Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia Saparinah Sadli (94), perhatian pemerintah kepada warga lansia minim.

Saat bonus demografi mendekati puncak lalu turun, proporsi warga usia produktif turun dan lansia bertambah. Bila warga lansia terabaikan, kaum muda memikul beban berat menyokong warga lansia.

Secara psikososial, orang lansia terbagi jadi usia tua muda (young old atau yold, usia 65-74 tahun), usia tua tua (old old atau old, 75-84 tahun), dan usia tua lanjut (oldest old, di atas 85 tahun).

Analisis Prof Emeritus Moertiningsih Adioetomo (78) dan Elda Luciana Pardede dari Lembaga Demografi UI atas laporan yang belum diterbitkan, Knowledge Hub UNFPA, data survei Maret 2020 Badan Pusat Statistik, Susenas 2015-2019, dan Statistik Penduduk Lansia 2020, memperlihatkan daya dukung pada warga lansia turun.

Pada 2020 ada 10 orang usia produktif menyokong 1 warga lansia, pada 2045 rasionya jadi 5 banding 1. Pada 2020, mayoritas lansia tua muda (yold, 64,3 persen) tinggal di perkotaan (53 persen), mayoritas berpendidikan SD (78,2 persen), dan perempuan (52,3 persen).

Isu jender

Perempuan lansia lebih panjang umur daripada pria lansia. Jika faktor kesehatan dipertimbangkan, usia harapan hidup perempuan yold lebih rendah.

Laki-laki lansia cenderung menikah dan perempuan lansia sendiri saat pasangan meninggal. Ada 25,5 persen pria lansia yang tinggal bersama pasangan dan 32,9 persen tinggal bersama keluarga, serta 14,1 persen perempuan lansia tinggal sendiri. Perempuan lansia miskin berjumlah lebih besar, antara lain, karena pria lebih banyak bekerja bernilai ekonomi di usia produktif.

Warga lansia lebih miskin daripada populasi umum. Sumber utama pemenuhan kebutuhan dasar lansia berasal dari bantuan sosial atau  keluarga.

Pandemi Covid-19 memperburuk kondisi sosial-ekonomi lansia. Banyak warga kehilangan pendapatan sehingga kesulitan menyokong orang tua lansia. Mereka mengurangi mutu dan kuantitas makan. Itu mengemuka, antara lain, dari survei SMERU 2021. Para lansia pun mengandalkan bantuan pemerintah.

Akibat pandemi, warga lansia tak bisa melakukan kontrol rutin kesehatan sehingga risiko penyakit tak menular naik, terutama pada perempuan lansia dan tinggal di pedesaan. Hampir tiga perempat lansia memiliki Jaminan Kesehatan Nasional dan hanya 23,2 persen yang bisa membayar iuran.

Dampak lain ialah tekanan kejiwaan. Sejumlah lansia mengalami kekerasan dari keluarga akibat tekanan sosial dan ekonomi. Soal kejiwaan terungkap pada tulisan lansia di buku Stay Home Lansia di Masa Covid dan Stay Home Lansia and Stay Connected, 1 Tahun Pandemi Covid-19.

Menurut Saparinah, penggagas buku itu bersama Ninuk Widyantoro, Agustine Dwiputri, dan Yoga Irawan, pandemi mengangkat lansia sebagai sesama manusia. Perlu ada sistem pendukung agar lansia sehat dan produktif. (NINUK M PAMBUDY)

 

Sumber: Harian Kompas. Edisi: Kamis, 28 Oktober 2021. Rubrik Humaniora. Halaman 11.