MM FEB UI Buka GNAM Oktober 2021 Bertemakan “Greasing the Wheels of Digital Transformation to Stimulate Post-Pandemic Growth and to Grasp Industry 4.0”

MM FEB UI Buka GNAM Oktober 2021 Bertemakan “Greasing the Wheels of Digital Transformation to Stimulate Post-Pandemic Growth and to Grasp Industry 4.0”

 

Farah Diba ~ Mahasiswa MM FEB UI

Nino Eka Putra ~ Humas FEB UI

DEPOK – (18/10/2021) Untuk ke-12 kalinya, MM FEB UI kembali mengadakan Global Network Week (GNW) selama 5 hari, pada tanggal 18-22 Oktober 2021, dengan tema “Greasing the Wheels of Digital Transformation to Stimulate Post-Pandemic Growth and to Grasp Industry 4.0.” Seperti tahun lalu karena kondisi pandemi,  pekan jejaring global ini diadakan secara daring.

Dalam program 5 hari ini, mahasiswa belajar dari praktisi bisnis, ekonom, dan juga pemerintah tentang bagaimana cara lini bisnis dapat bertahan,  beradaptasi dengan cepat di tengah krisis karena pandemi, dan adanya percepatan industri 4.0 dan digitalisasi yang tidak dapat dipungkiri.

Peserta Global Network for Advanved Management (GNAM) Week adalah para mahasiswa perwakilan dari universitas yang merupakan anggota GNAM. Tercatat  total 12 peserta mahasiswa asing, yang berasal dari EGADE Business School-Tecnológico de Monterrey Mexico (1), UBC Sauder School of Business Canada (2), Indian Institute of Management Bangalore (4), Fudan University School of Management China (1), Lagos Business School-Nigeria (2), FGV Escola de Administração de Empresas de São Paulo Brazil, Saïd Business School (1), University of Oxford United Kingdom (1). Terdata pula 113 peserta mahasiswa dalam negeri yang mendaftar, mereka berasal dari MM FEB UI (100), MM UGM Yogyakarta (3), MM UGM Jakarta (5), Universitas Tarumanagara (3), dan Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (2).

GNAM Week ke-12 ini didukung oleh beberapa mitra yaitu dari PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Arwana Ceramics, dan PT. Telkom Indonesia (Persero) Tbk.

Hari pertama GNAM Week Oktober 2021, Senin (18/10/2021)

Rektor Universitas Indonesia, Prof. Ari Kuncoro, Ph.D., dalam sambutannya berharap untuk seluruh mahasiswa MBA yang mengikuti GNAM Week ke-12 MM FEB UI, dapat belajar dan bertemu dengan pembuat kebijakan utama, berdiskusi aktif dan memberikan pendekatan kreatif terhadap industri 4.0 meskipun dilakukan secara daring.

Hal selaras juga disampaikan oleh Ketua Program Studi MM FEB UI, Rofikoh Rokhim, Ph.D., yang berharap dengan adanya GNAM Week ini peserta dengan berbagai latar belakang berbeda dapat bertukar pikiran, sehingga ide dan insight yang diperoleh semakin meluas. Pandemi Covid-19 telah menunjukkan adanya perubahan ke arah nilai teknologi digital. Selama wabah tersebut, industri teknologi mengalami percepatan yang pesat di hampir semua negara, termasuk Indonesia. Melalui GNAM Week ini, peserta juga dapat memperoleh pengetahuan tentang bagaimana transformasi digital dapat membantu bisnis Indonesia bertahan dari krisis pandemic, serta kesiapan Indonesia dalam menyongsong Revolusi Industri Generasi ke-4.

Session 1: Accelerating Digital Economy to Boost Financial Inclusion and Economic Growth

Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati, Ph.D., mengisi sesi pertama ini, dengan moderator Prof. Rofikoh Rokhim, Ph.D., Ketua Program Studi MM FEB UI.

Menkeu Sri mulyani Indrawati, menjelaskan beberapa decacorn yang sudah ada di Indonesia. Selain itu, bagaimana decacorn tersebut berhasil memanfaatkan teknologi untuk berinovasi dan menjadikannya sebagai platform dalam bertukar informasi di era industri 4.0. Kita butuh banyak ide dan inovasi dalam membangun negara. Tidak hanya itu, creativity mentality juga dibutuhkan dalam membangun competitiveness dan productivity sebagai individu.

Session 2: The Importance of Harnessing Digital Banking to Promote MSME Lending

Sesi kedua, pemaparan materi dibawakan oleh Dr. Indra Utoyo, Managing Director Digital, IT and Operation PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, dengan moderator Dony Abdul Chalid, Ph.D., Dosen Departemen Manajemen FEB UI.

Indra Utoyo memaparkan, bahwa perubahan digital tidak lagi bersifat linear namun sudah bergerak secara eksponensial. Digitalisasi sudah membuat banyak shifting kebiasaan dalam pembentukan model bisnis baru.  Industri perbankan sudah melakukan shifting dan adjustment lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya, seperti bekerjasama dengan start-up terkemuka. Saat ini, bisnis model perbankan sudah beragam, yang awalnya hanya bank hybrid dan syariah sekarang sudah mulai bermunculan bank digital.

“Tidak dapat dipungkiri, pandemi Covid-19 secara langsung mempengaruhi para pelaku usaha UMKM untuk melakukan digital transformation untuk dapat bertahan dan bergerak maju. Kita butuh untuk selalu agile dan terbuka dalam setiap kesempatan kolaborasi. Hal esensial tentang digital transformation bukanlah tentang teknologi, melainkan bagaimana kita sebagai individu dapat bertransformasi terhadap suatu masalah secara cepat dan tepat, mengeliminasi birokrasi yang berbelit-belit, dan bagaimana  selalu eksplorasi terhadap kesempatan baru dan siap dengan kondisi ketidakpastian,” tutur Indra.

Session 3: Fine-Tuning a Transport Business Model in the Age of Social Distancing, Lesson from a Success Digital Transformer

Sesi ketiga, pemaparan materi disampaikan CEO PT. Blue Bird, Tbk, Ir. Sigit Djokosoetono, dengan moderator Ririen Setiati Riyanti, Ph.D., Dosen Departemen Manajemen FEB UI.

Sigit Djokosoetono, menyampaikan bahwa perusahaan Blue Bird bertahan di tengah pandemi Covid-19 dan era digital dengan menerapkan bisnis model baru yang menjalin kerjasama dengan berbagai channel, product hingga media pembayaran. Pada akhirnya, Blue Bird dapat bertransformasi menjadi media transportasi yang berbasis teknologi 3M yaitu Multichannel, Multipayment dan Multiproduct service.

“Blue Bird dapat bertahan dan shifting dengan baik dan merespon transformasi digital dengan menggunakan data sebagai basis untuk mengenali kebutuhan pelanggan, sehingga service yang ditawarkan dapat selalu relevan dan bisa dilanjutkan implementasinya dalam pendekatan model bisnis baru,” demikian Sigit menutup sesinya. (hjtp)

 

Leave a Reply