Toto Pranoto di Hot Economy, Berita Satu TV “Era Baru Pelabuhan Indonesia”

0

Toto Pranoto di Hot Economy, Berita Satu TV “Era Baru Pelabuhan Indonesia”

 

Nino Eka Putra ~ Humas FEB UI

DEPOK – (5/10/2021) Menteri BUMN Erick Thohir mengklaim Merger Pelabuhan Indonesia (Pelindo) akan membuat perusahaan menjadi operator terminal peti kemas tebesar ke-8 di dunia. Harapan lainnya Merger Pelindo bisa menurunkan biaya logistik di tanah air.

Lantas mampukah Merger Pelindo menurunkan biaya logistik di Indonesia dan apa saja tantangan yang harus dihadapi pasca-Merger ini. Hal ini dibahas bersama narasumber Pengamat BUMN sekaligus Dosen FEB UI, Dr. Toto Pranoto dan Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Yukki Nugrahawan Hanafi yang dipandu oleh news presenter Poppy Zeidra dalam acara Hot Economy, Berita Satu TV, bertema “Era Baru Pelabuhan Indonesia” pada Selasa (5/10/2021).

Pengamat BUMN sekaligus Dosen FEB UI, Dr. Toto Pranoto mengatakan keputusan yang diambil oleh Menteri BUMN dengan melakukan Merger Pelindo bertujuan untuk meningkatkan daya saing dari sisi pengolahan struktur biaya dan efisiensi, sehingga nantinya meningkatkan competitiveness level Pelindo di kancah internasional.

“Apabila competitiveness level Pelindo ditingkatkan maka bisa mengurangi biaya logistik secara nasional dan pelabuhan di Indonesia menjadi satu tujuan bagi para operator global kapal-kapal besar untuk singgah,” ujar Toto.

Integrasi dalam pasca-Merger yang sudah dibentuk harus mempunyai standard operating prosedur (SOP) pelayanan pelabuhan yang lebih baik. Selain itu, perlu adanya komunikasi antara perusahaan Pelindo dengan para stakeholder sehingga operator kapal-kapal besar di dunia bisa menjadikan Indonesia menjadi salah satu basis hub komoditas global.

Di satu sisi, dengan adanya Undang-undang Pelayaran dan Peraturan Pemerintah mengenai Badan Usaha Pelayaran, mengatur tentang diperbolehkannya sektor swasta mengelola pelabuhan maka Pelindo tidak lagi menjadi entitas yang sifatnya monopoli. “Pelindo ke depannya, juga membutuhkan strong leader yang bisa memberikan suatu inspirasi atau gagasan dan mempunyai visionary leadership sehingga perusahaan bisa berdaya saing secara global,” demikian Toto menutup sesinya.