Kuliah Umum MAKSI-PPAk: Blockchain, The Future is Here

Kuliah Umum MAKSI-PPAk: Blockchain, The Future is Here

 

Rifdah Khalisha – Humas FEB UI

DEPOK – (24/9/2021) Magister Akuntansi – Pendidikan Profesi Akuntan (MAKSI-PPAk) FEB UI bersama Deloitte mengadakan kuliah umum bertema “Blockchain: The Future is Here” secara daring, pada Jumat (24/9). Acara menghadirkan pembicara Andrew Koay (Director of Southeast Asia Blockchain Lab, Deloitte Asia Tenggara) dan William Tanuwijaya (Country Leader for Audit Transformation, Innovation, and Analytics, Deloitte Indonesia).

Kehadiran aset digital mengubah seluruh instrumen keuangan, tak terkecuali perbankan digital. Singkatnya, semua jenis transaksi sedang bertransformasi menjadi lebih baik. Setiap pihak yang menjadi pelanggan industri jasa keuangan pun harus beradaptasi.

Pada beberapa tahun terakhir, teknologi blockchain tumbuh secara progresif. William mengatakan, “Saat ini, pasti sudah banyak yang pernah mendengar istilah blockchain. Teknologi terbaru ini akan sering kita hadapi di masa depan.”

Industri perbankan di seluruh negeri telah berhasil memulai kolaborasi dengan perusahaan khusus (financial technology) dan/atau perusahaan konsultan untuk membangun bukti konsep dan mengeksplorasi berbagai kasus penggunaan potensial.

Hal Ini menyiratkan keseriusan bank terhadap teknologi blockchain dan keinginannya untuk memahami kinerja blockchain dalam mengatasi dan menyelesaikan beberapa masalah dalam proses kondisi terkini.

Terlepas dari kerumitannya, blockchain hanyalah jenis database lain untuk mencatat transaksi. Lalu, blockchain menyalin ke semua komputer jaringan yang berpartisipasi hampir pada waktu nyata.

William dan Andrew pun memaparkan awal mula adopsi teknologi blockchain melalui hype cycle pada transformasi perbankan digital yang terbagi menjadi 5 fase. Mulanya, decentralized finance dan non fungible tokens menjadi pemicu inovasi. Lalu, puncak harapan meningkat saat hadirnya blockchain asset tokenization, retail, dan wholesale Central Bank Digital Currency (CBDC). Pada fase ini, publik sudah mulai mengenal dan nvestor sudah mulai mendanai teknologi tersebut.

Dengan kecepatan sama, pesatnya perkembangan harapan beriringan dengan penurunan harapan. Ketertarikan publik terhadap produk teknologi turun drastis, tepatnya saat kehadiran blockchain. Namun, beberapa pengembang mencoba memperbaiki produk awal miliknya.

Namun, pengembang mulai memperbaharui atau menemukan inovasi terbaru sehingga produk teknologi sudah lebih stabil, mampu memenuhi kebutuhan publik saat hadirnya open banking strategy, FS industry super apps, public cloud for banking, real-time payments, dan social messaging payment apps. Akhirnya, publik pun menerima dan menggunakannya secara massal.

“Seiring waktu, sebutan ‘Blockchain in Banking and Investment Services’ berganti lebih singkat menjadi ‘Blockchain‘ untuk mencerminkan fakta bahwa teknologi sekarang memiliki relevansi di berbagai industri,” jelas William.

Lebih lanjut, Andrew menuturkan,Blockchain memungkinkan pengelolaan buku besar bersama yang aman, setiap transaksi terverifikasi dan tersimpan di jaringan tanpa otoritas pusat yang mengatur. Blockchain dapat datang dalam konfigurasi berbeda, mulai dari blockchain publik, jaringan sumber terbuka, hingga pribadi, yang memerlukan izin eksplisit untuk membaca atau menulis.”

“Data dalam blockchain tersimpan dalam struktur tetap yang disebut blocks. Bagian penting dari sebuah block adalah header dan content. Header mencakup metadata, seperti nomor referensi block unik, waktu pembuatan block, dan tautan kembali ke block sebelumnya. Sementara content, biasanya daftar aset digital dan pernyataan instruksi yang divalidasi, seperti transaksi, jumlah, dan alamat para pihak dalam transaksi tersebut,” terangnya.

Dalam transaksi, kedua pihak akan bertukar data yang dapat mewakili uang, kontrak, akta, catatan medis, detail pelanggan, atau aset lainnya dalam bentuk digital. Setiap transaksi harus tervalidasi secara kriptografis melalui mekanisme konsensus yang dijalankan oleh node, sebelum ditambahkan permanen sebagai ‘block‘ baru di akhir ‘chain‘ sehingga tidak perlu otoritas pusat untuk menyetujui transaksi. Oleh karenanya, blockchain terkadang disebut sebagai mekanisme peer-to-peer trustless.

     

Leave a Reply