LM FEB UI, BRIDGE Webinar Series: Private Sector Changing During Pandemic

LM FEB UI, BRIDGE Webinar Series: Private Sector Changing During Pandemic

 

Rifdah Khalisha – Humas FEB UI

DEPOK – (8/9/2021) Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LM FEB UI) menggelar Business Research Insights for Developing Great Executives (BRIDGE) Webinar Series dengan tema “Private Sector Changing During Pandemic” pada Rabu (8/9). Menghadirkan Mardijono Nugroho (Direktur Teknik dan Infrastruktur PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko) dan Sihol Aritonang (Presiden Direktur PT Riau Andalan Pulp and Paper – Grup APRIL) sebagai pembicara.

   

Mardijono memaparkan situasi sektor pariwisata dan perjalanan–terutama wisata budaya candi–di tengah pandemi. PT Taman Wisata Candi (TWC) berkomitmen menjadi perusahaan terkemuka dan transparan dalam pengelolaan peninggalan sejarah dan pariwisata yang selaras dengan pelestarian situs budaya nasional.

TWC mengelola 4 pilar bisnis, yakni heritage destination, culture destination, amenities, dan attraction. Bisnis heritage destination mencakup pengelolaan Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko.

Ia mengungkapkan, “Sejak pandemi, statistik kedatangan wisatawan Indonesia dari Juli 2019 hingga Juli 2021 mengalami penurunan lebih dari 80 persen. Total pengunjung asing yang berkunjung ke Yogyakarta dari Juli 2019 hingga Juli 2021 turun lebih dari 90 persen.”

“Sementara statistik Kedatangan Wisatawan TWC, total pengunjung, baik dari dalam dan luar negeri, untuk wisata budaya Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko menurun lebih dari 80 persen dari 2019 hingga 2021,” lanjutnya.

Oleh karenanya, TWC menerapkan 9 poin strategis utama rencana pemulihan pariwisata nasional, yakni penerapan 3M dan protokol kesehatan secara disiplin, pemetaan peluang investasi, pendanaan dari dana abadi Sovereign Wealth Fund (SWF), pembangunan sumber daya manusia, pengurangan anggaran promosi yang tak efektif, pengembangan agrowisata, perbaikan 5 destinasi super prioritas, penyelenggaraan wisata berbasis kesehatan, dan peningkatan komunikasi untuk menarik investor.

Lalu, 4 poin solusi strategis perusahaan. Pertama, transformasi digital, menerapkan digitalisasi untuk proses bisnis inti internal dengan menyediakan fitur pembayaran non tunai saat ini dalam sistem tiket dan platform daring untuk penjualan produk.

Kedua, pengurangan biaya, mengurangi pengeluaran yang tidak perlu, menggunakan platform elektronik kantor untuk menghemat biaya peralatan kantor, dan mengendalikan biaya semua unit bisnis.

Ketiga, peningkatan internal, meningkatkan tata kelola teknologi informasi secara signifikan melalui program pembinaan dan penilaian karyawan untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas.

Terakhir, kolaborasi eksternal, menjalin kerja sama dengan pemerintah atau pemangku kepentingan dalam rangka menciptakan mitra bisnis baru dan meningkatkan kualitas destinasi.

   

Selepas itu, Sihol membahas seputar Grup Asia Pacific Resources International Limited (APRIL). Perusahaan ini mengelola 450.000 ha areal perkebunan dan 370.000 ha areal konservasi yang terletak di Riau, Indonesia. Sementara kantornya berada di Jakarta dan Singapura.

Di bawah naungan Grup APRIL, PT Riau Andalan Pulp and Paper mengelola pabrik pengolahan pulp dan kertas di Pangkalan Kerinci. Setiap tahunnya, pabrik berteknologi kelas dunia ini mampu memproduksi 2.800.000 ton pulp dan 1.150.000 ton kertas berkualitas. Bahkan, telah memasarkan produknya di seluruh penjuru dunia.

Ia mengatakan, “Panduan produksi kami mengacu pada Sustainable Forest Management Policy 2.0 (SFMP 2.0) dan Visi APRIL 2030. Lalu, pengoperasian pabrik menerapkan prinsip lean manufacturing untuk efisiensi energi dan air serta minimalisir emisi.”

Situasi pandemi mendorong lahirnya Visi APRIL 2030 dan berbagai inisiatif lainnya. VIsi APRIL 2030 terdiri atas climate positive (iklim positif), menerapkan solusi berbasis sains untuk mengurangi emisi karbon secara drastis; thriving landscapes (lanskap yang berkembang), memperjuangkan konservasi sebagai bagian dari lanskap perlindungan produksi; inclusive progress (kemajuan inklusif), memberdayakan pegawai dan komunitas melalui inisiatif transformatif; dan sustainable growth (pertumbuhan berkelanjutan), menumbuhkan bisnis melalui diversifikasi, sirkularitas, dan produksi yang bertanggung jawab.

“Pandemi tidak melunturkan komitmen jangka panjang untuk mencapai sustainability. Kami pun menerapkan inisiatif lainnya, Grup APRIL berupaya mengidentifikasi area untuk restorasi, mengukur emisi greenhouse gas (GHG), memaksimalkan pemanfaatan biomassa di pabrik, memasang panel surya 1 MW di tempat pembuangan akhir tertutup (dari total 20 MW pada tahun 2030), memanfaatkan limbah (misalnya, lumpur sebagai pengganti bahan bakar dan abu terbang untuk tanah dasar jalan), serta menggunakan B30 untuk kebutuhan solar dan pilot B50 untuk alat berat,” tuturnya mengakhiri.

Leave a Reply