ILUNI FEB UI: Peluncuran Buku Indonesia 2045

ILUNI FEB UI: Peluncuran Buku Indonesia 2045

 

Rifdah Khalisha – Humas FEB UI

DEPOK – (20/8/21) Ikatan Alumni Program Pascasarjana Ilmu Manajemen (ILUNI PPIM) FEB UI menggelar acara “Peluncuran buku Indonesia 2045” secara virtual pada Jumat (20/8/2021). Peluncuran buku Indonesia 2045 merupakan wujud sumbangsih alumni FEB UI terhadap pemikiran pembangunan ekonomi masa depan. Buku ini memuat kontribusi pemikiran 15 ekonom dan praktisi muda alumni FEB UI yang mewakili generasi milenial dalam melihat Indonesia pada 100 tahun pasca kemerdekaan.

Dalam acara tersebut, Teguh Dartanto (Pj. Dekan FEB UI), Destry Damayanti (Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia dan Ketua Umum ILUNI FEB UI), dan Sri Mulyani Indrawati (Menteri Keuangan RI) memberikan pidato sambutan mengenai kondisi perekonomian Indonesia pada 2045 mendatang. Selain itu, membahas pula peran inovasi dan teknologi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.

Teguh menuturkan terima kasih kepada ILUNI FEB UI yang aktif berkontribusi membukukan pemikiran anak muda alumni FEB UI. “100 tahun pasca kemerdekaan Indonesia pada 2045 selalu menjadi pertanyaan menarik bagi kita semua. Alumni FEB UI sungguh luar biasa. Dengan perspektif berbeda, mampu meramu gagasan pemikiran untuk mewujudkan perekonomian Indonesia yang jaya, kaya, dan adil bagi semuanya.”

Menurut Teguh, alumni FEB UI harus aktif dan berani mengutarakan keinginannya terhadap Indonesia di masa mendatang. Jika melihat lintasan sejarah, banyak tokoh hebat terlahir dari FEB UI yang selalu berperan aktif mengarahkan jalannya perekonomian Indonesia. Maka FEB UI terus berusaha keras mencetak para ahli di bidang bisnis dan ekonomi yang akan mewarnai Indonesia di tahun 2045 dengan menyesuaikan kurikulum, meningkatkan pengajaran, mendorong peserta didik, dan menargetkan akreditasi internasional.

“Mencetak pemimpin baru di masa depan merupakan tanggung jawab yang tidak ringan. Oleh karena itu, kami butuh bantuan para alumni FEB UI untuk mewujudkannya,” tandasnya.

Lalu, Destry mengutarakan bahwa digitalisasi berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir karena adanya perubahan perilaku di tengah pandemi dan peran kontribusi kalangan milenial.

Pemuda zaman sekarang sangat mudah terhubung dengan berbagai platform digital. Bagi Destry, ada beberapa karakter yang mampu mendukung pemulihan Indonesia lebih cepat, yakni sadar teknologi, sadar keuangan, optimis terhadap perbaikan Indonesia, hingga minat berwirausaha. Karakter tersebut akan mengubah pola pikir keseluruhan kaum milenial untuk masa depan.

Ia menegaskan adanya perubahan yang baik di kalangan pemuda. Mereka mulai beralih, tak lagi mencari lapangan usaha, tetapi menciptakan pekerjaan bagi sesamanya. 

“Bukan saya nanti mau kerja di mana, tetapi saya nanti mau usaha apa. Jadi, mindset telah berubah sekali. Ini kesempatan bagi mereka yang akan membuat lapangan pekerjaan yang lebih luas lagi,” ujarnya.

Menteri Sri mengungkapkan ancaman pelik yang tengah menjadi bahasan berbagai negara di dunia usai COVID-19, yakni perubahan iklim (climate change). Isu perubahan iklim semakin nyata, memberikan dampak bagi semua negara termasuk Indonesia. Maka, perlu adanya rumusan kebijakan untuk mengatasi masalah tersebut.

“Persoalan pelik di dunia yaitu climate change ini akan menjadi risiko yang nyata karena kebetulan waktu kita bicara tentang Indonesia 2045, dan kita bicara mengenai timeline climate di tahun 2040-2050,” tuturnya.

Ia pun mengatakan jika seluruh negara di dunia tidak mampu menciptakan target pembangunan net zero emission atau bebas dari emisi karbon pada kurun waktu 2040 hingga 2050, maka dapat dipastikan dunia akan mengalami dampak pemanasan global. Bahkan, ia menilai dampak tersebut sudah mulai dirasakan.

Tercatat dalam laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) mengenai dampak perubahan, Indonesia termasuk negara yang akan mengalami dampak luar biasa, mulai dari pemanasan global, kebakaran hutan, hingga kenaikan permukaan laut. Indonesia sebagai negara kepulauan menjadi penyebab potensi ancaman tersebut semakin nyata.

Karenanya, Menteri Sri meminta seluruh pihak termasuk generasi milenial—khususnya dari Universitas Indonesia—turut mencurahkan perhatian dan membantu pemerintah memikirkan kebijakan yang tepat untuk mempersiapkan dampak perubahan iklim. Pasalnya masalah perubahan iklim mencakup berbagai aspek dimensi, seperti sosial, ekonomi, dan politik.

Kemudian, hadir pula para panelis, Teuku Riefky (Ekonom LPEM FEB UI), Alfatih Timur (Founder dan CEO Kitabisa), Joshua Agusta (Director – Venture Funds, PT. Mandiri Capital Indonesia), dan Achmad Zaky (Founder dan Ex-CEO Bukalapak) untuk berdiskusi mengenai buku Indonesia 2045.

     

Leave a Reply