Teguh Dartanto di Dialog Mengupas Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II 2021

Teguh Dartanto di Dialog Mengupas Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II 2021

 

JAKARTA, MEDCOM.ID – (6/8/2021) Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi positif pada kuartal II-2021. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 7,07 persen. Capaian ini tertinggi sejak kuartal IV-2004.

Pertumbuhan tersebut menjadi catatan bahwa Indonesia berhasil keluar dari resesi. Pertumbuhan ini mengakhiri catatan kontraksi ekonomi berturut-turut sejak kuartal II tahun lalu hingga kuartal I tahun ini.

     

Meskipun meraih catatan positif, Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengaku tidak ingin terlalu terlena dengan situasi ini. Hal ini masih berkaitan dengan kondisi pandemi.

“Menurut saya, pertumbuhan ekonomi 7,07 persen harus diapresiasi. Namun, jangan juga terlena,” kata Bahlil, dalam Dialog Mengupas Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II 2021 secara virtual, Jumat, 6 Agustus 2021.

Pertumbuhan ekonomi yang mencapai tujuh persen disebabkan belum adanya kebijakan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) pada periode April hingga Juni. Kebijakan PPKM mulai diberlakukan sekitar Juni (akhir) dan Juli.

“Oleh sebab itu, kondisi pada kuartal III-2021 tidak akan sama baik dengan kuartal II-2021,” kata Bahlil.

Catatan yang sama juga disampaikan oleh Ekonom Senior dan Politikus Faisal Basri. Ekonomi yang bangkit hingga tujuh persen pada kuartal II-2021 disebabkan adanya pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) oleh pemerintah. Pelonggaran ini mendorong hampir seluruh sektor mulai bangkit.

Dalam pengamatannya, kecepatan pertumbuhan ekonomi paling tinggi terjadi di Pulau Jawa, sekitar 14,6 persen. Namun, ada harga yang harus dibayar mahal akibat pelonggaran PSBB pada kuartal II-2021, kasus covid-19 melonjak drastis.

“Pertumbuhan ekonomi relatif baik karena melonggarkan PSBB, sehingga covid-19 merajalela kembali. Maka harus dibayar pada pertumbuhan kuartal III-2021 (kemungkinan) turun lagi,” ujar Faisal.

“Jadi, baru disadari. Too little too late (agak terlambat). Hal ini menunjukkan ekonomi tidak bisa bangkit bila pandemi tidak bisa dikendalikan,” ujarnya.

Sementara itu, Pj Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Teguh Dartanto mengapresiasi pertumbuhan ekonomi yang terjadi di kuartal II-2021, khususnya dari penerimaan investasi yang tumbuh signifikan.

“Kalau dibandingkan negara lain mungkin masih ketinggalan tapi dari dalam negeri kita cukup optimis terlebih ada pertumbuhan investasi jangka panjang,” jelasnya.

Menurutnya, pemerintah harus bisa menangani isu kesehatan dengan baik agar pemulihan ekonomi bisa berlanjut pada kuartal III-2021. Optimisme ini harus betul-betul dirawat. Ia mengatakan, “Pertama, kesehatan adalah panglima, nanti yang lain mengikuti. Berarti, pemerintah perlu meningkatkan 3T (testing, tracing, dan treatment), mempercepat vaksinasi—terutama untuk sektor informal—dan memperketat protokol kesehatan.”

Kedua, kepemimpinan yang lincah dan mumpuni sangat dibutuhkan pada masa krisis pandemi ini. Teguh melihat, banyak kementerian belum memenuhi peran kepemimpinan. Banyak dari mereka tidak berani mengambil risiko.

Ketiga, ketulusan semua pihak dalam membangun bangsa ke depannya.

“Terakhir, konsistensi menjaga optimisme di masyarakat. Kita harus fokus bahwa kesehatan adalah kunci utama dari pemulihan ekonomi,” tutup Teguh.

Negara Mitra Dagang  dan Ekspor-Impor Tumbuh

Bahlil menjelaskan pertumbuhan ekonomi yang mencapai 7,07 persen pada kuartal II-2021 disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, ekonomi mitra dagang seperti Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, Tiongkok, dan Korea Selatan juga mengalami pertumbuhan.

Di samping itu ekspor dan impor juga tercatat tumbuh positif. Sekitar 50 persen dan 45 persen. Hal ini menunjukkan ekonomi sudah mulai bergairah di negara tujuan maupun dalam negeri.

“Meskipun belum maksimal, tapi sudah terjadi,” ujar Bahlil.

Pertumbuhan ekonomi juga ditopang oleh sektor konsumsi yang mengalami pertumbuhan sekitar lebih dari lima persen. Lalu, investasi juga tumbuh hampir delapan persen.

“Sektor pertanian juga tumbuh meskipun tidak maksimal. Kisaran 0,3 hingga 0,5 persen,” ujarnya.

Pada dasarnya, pertumbuhan ekonomi yang mencapai 7,07 persen harus dilihat secara obyektif. Hal ini bisa diterima mengingat pertumbuhan ekonomi sempat minus lima persen pada kuartal II-2020.

“Hampir semua negara yang pada dasarnya rendah (pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2020) sekarang tumbuh tinggi. Misalnya, Singapura. Meskipun pandemi, ada prospek menuju perbaikan,” ucapnya.

 

Sumber: https://www.medcom.id/ekonomi/keuangan/eN43GVoK-menteri-investasi-tidak-ingin-terlena-dengan-pertumbuhan-ekonomi-7

Leave a Reply