Mohamad D. Revindo: Olimpiade Tokyo, Tanpa Penonton bukan Tanpa Cuan

Olimpiade Tokyo, Tanpa Penonton bukan Tanpa Cuan

Oleh: Mohamad D. Revindo, Kepala Pusat Kajian Iklim Usaha dan GVC LPEM FEB UI

 

KORAN KONTAN – (27/7/2021) OLIMPIADE Tokyo  2021 akhirnya terlaksana mulai 23 Juli lalu dan dijadwalkan selesai pada 8 Agustus mendatang, setelah sebelumnya ditunda akibat pandemi COVID­-19. Pada olimpiade ini, 11 ribu atlet dari 205 negara terlibat untuk memperebutkan medali di 33 cabang olahraga yang dikonteskan. Pelaksanaan olimpiade ini terus menuai kontroversi mengingat tingginya risiko penyebaran virus. Meskipun demikian, pemerintah dan komite olimpiade Jepang akhirnya tetap menyelenggarakan olimpiade meskipun dengan berbagai konsekuensi.

Jepang menetapkan standar kesehatan yang sangat tinggi, yang tentunya berdampak pada pembengkakan biaya penyelenggaraan hingga lima kali lipat dari anggaran yang direncanakan pertama kali di 2013. Meskipun biayanya menjadi sangat tinggi, tetapi estimasi Prof. Katsuhiro Miyamoto (Universitas Kansai) menunjukkan penundaan satu tahun akan merugikan Jepang 5,8 miliar USD dan pembatalan akan menimbulkan kerugian potensial 41,5 miliar USD. Selain itu, Jepang juga bersedia melakukan kompromi dengan melarang hadirnya penonton pada pertandingan Olimpiade. Lantas, bagaimana suatu mega event yang digelar tanpa penonton ini bisa memberi manfaat bagi ekonomi Jepang sebagai tuan rumah?

Secara konseptual, Olimpiade dapat dianggap sebagai produk industri hiburan atau tontonan yang menghasilkan dua output: hiburan di arena olahraga dan tontonan di layar kaca. Kegiatan ekonomi lain yang terkait akan mengikuti kedua bentuk tontonan tersebut. Aktivitas penonton yang hadir langsung di arena akan mengerek kegiatan bisnis di bidang penyewaan arena, transportasi dalam kota, makanan dan minuman, penjualan tiket, serta produksi dan perdagangan merchandise olahraga. Dengan pertandingan digelar tanpa penonton, dampak ekonomi dari sektor tersebut jelas akan hilang sehingga tidak bisa dinikmati oleh Jepang sebagai tuan rumah.

Akan tetapi masih ada produk kedua berupa hiburan tontonan layar kaca dengan perputaran uang meliputi industri penyiaran, periklanan, media, perangkat dan komponen gawai, penyedia jasa telekomunikasi dan internet. Menariknya, tontonan televisi menjadi semakin relevan sejak pandemi karena mobilitas manusia yang melambat. Penggemar olahraga yang dilarang datang ke arena tentunya membutuhkan hiburan alternatif yang salah satunya adalah hiburan layar kaca.

Dunia usaha tentu juga mencium perubahan ini. Tidak mengeherankan, pengeluaran iklan layar kaca tidak banyak terpengaruh meskipun dunia usaha relatif lesu di masa pandemi. Lembaga eMarketer memperkirakan secara global pengeluaran iklan pada platform tradisional (TV, radio, reklame/billboard, dan koran) pada 2020 hanya turun 1,2% dibanding 2019. Sebaliknya, pengeluaran iklan pada platform digital (berbasis internet, dan gawai) justru tumbuh 12,7% pada 2020 dan diestimasikan mencapai 20,4% pada 2021. Total pengeluaran iklan di seluruh dunia juga tidak terpengaruh pandemi dan diperkirakan naik dari 378 miliar USD pada 2020 menjadi 455 milliar USD pada 2021.

Tak mengherankan, perputaran uang dari tontonan layar kaca inilah yang diincar Jepang untuk menutup sebagian biaya penyelenggaraan. Global Times melaporkan terdapat lebih 60 perusahaan raksasa Jepang dan internasional termasuk Toyota dan Panasonic sudah siap menggelontorkan USD 3,3 miliar untuk sponsor. Selain itu, terdapat kegiatan bisnis lain yang berkembang sendiri pada saat penyelenggaraan Olimpiade. Pertama, bisnis souvenir dan merchandise resmi. Dengan harganya berkisar dari 1000 Yen (Rp 131 ribu) sampai 2,2 juta Yen (Rp 288 juta). Jepang dapat menutup seperempat biaya penyelenggaraan Olimpiade jika berhasil menjual 200 juta keeping memorabilia (sekitar 2/3 dari penjualan Olimpiade 2016 Brazil) dengan harga rata-­rata souvenir 3300 Yen.

Bisnis lainnya adalah pariwisata. Piala dunia Sepak Bola 2018, walaupun mungkin tidak memberikan dampak ekonomi besar bagi Rusia, nyatanya mampu memberikan perspektif yang lebih baik mengenai pariwisata Rusia. Perspektif ini yang kemungkinan diincar Jepang. Kesan Jepang sebagai negara yang sehat dan aman ini akan melekat­ pada publik dunia, khususnya bagi wisatawan menengah ke atas yang ingin berwisata saat pandemi relatif melandai.

Kemampuan Jepang mengoptimalkan bisnis tontonan layar kaca dan citra sebagai negara dengan standar kesehatan yang baik dapat menjadi pelajaran untuk Indonesia yang dalam waktu dekat akan menghelat PON, MotoGP dan Piala Dunia U­20.

 

Artikel ini merupakan kerjasama antara: Kontan 25 dan LPEM FEB UI

Berita dimuat pada: Koran Kontan. Edisi: Selasa, 27 Juli 2021. Halaman 16.

Leave a Reply