Budi Frensidy: Memahami Perhitungan Indeks Saham

Memahami Perhitungan Indeks Saham

Oleh: Prof. Dr. Budi Frensidy, Penulis Buku Matematika Keuangan sekaligus Guru Besar FEB UI

 

Koran Kontan – (19/7/2021) Indeks saham dibentuk untuk menggambarkan pergerakan saham-saham di satu bursa. Di beberapa bursa saham yang jumlah emitennya sedikit, indeks dihitung dari seluruh saham, seperti di bursa Taiwan, Korea, dan Indonesia. Di bursa lainnya, indeks sahamnya tidak menggunakan populasi, tetapi sampel yang representatif, misalnya di Hong Kong (Hang Seng) dan Singapura (STI).

Berapa bobot setiap saham dalam sampel atau populasi untuk menghitung indeks? Ada empat metode yang digunakan untuk menghitung bobot saham di indeks, yaitu berdasarkan harga, nilai, tidak tertimbang, dan free float. Saya akan menggunakan bursa saham hipotetis dengan empat saham untuk menjelaskan perbedaannya.

Berdasarkan Harga

Dua indeks saham berdasarkan harga paling populer adalah Dow Jones dan Nikkei. Dow Jones dihitung berdasarkan pergerakan harga dari 30 saham utama, sementara Nikkei dari 225 saham.

Dalam ilustrasi di atas, pergerakan indeks akan ditentukan perubahan harga saham A, B, C, dan D dengan bobot 10% (50/500), 20% (100/500), 30% (150/500), dan 40% (200/500) masing-masing. Jika saham A naik 10% sementara tiga saham lainnya tetap, indeks akan naik 1% (10% x 10%). Tetapi jika yang naik 10% itu saham D, indeks naik 4% (10% x 40%). Jadi saham yang berharga tinggi mempunyai pengaruh yang besar.

Berdasarkan Nilai

Dalam metode ini, saham dengan kapitalisasi pasar besar, yang akan menentukan pergerakan indeks. Metode ini paling banyak digunakan, antara lain oleh S&P 500, Nasdaq dan Hang Seng. Sebelum 2019, semua indeks saham di BEI menggunakan metode ini.

Keunggulan indeks berdasarkan nilai adalah perubahan indeks mencerminkan perubahan nilai kapitalisasi pasar. Jadi, jika IHSG naik 5% selama periode tertentu, katakan dari 6.000 menjadi 6.300, ini berarti kapitalisasi pasar BEI naik 5%, misalkan dari Rp 7.000 triliun menjadi Rp 7.350 triliun. Jadi bukan kenaikan harga saham rata-rata di BEI adalah 5%.

Pergerakan indeks saham berdasarkan nilai akan ditentukan perubahan harga saham A, B, C, dan D dengan bobot 40%, 20%, 30%, dan 10%. Jika hanya saham A yang naik 10%, indeks akan naik 4% (10% x bobot 40%). Sementara jika yang naik 10% saham D saja, kenaikan indeks hanya 1% (10% x 10%).

Yang relatif jarang digunakan adalah indeks tak tertimbang atau indeks yang memberi bobot sama kepada semua saham tanpa melihat harga atau kapitalisasi pasar. Saham berharga Rp 50 sama pentingnya dengan saham berharga Rp 200. Pengaruh perubahan 10% harga setiap saham terhadap pergerakan indeks adalah sama, yaitu 2,5%.

Free Float

Indeks berdasarkan saham beredar hanya menghitung jumlah saham beredar mestinya untuk menghitung kapitalisasi pasar. Bila memakai saham contoh, maka saham C menjadi penentu indeks, karena memiliki kapitalisasi saham beredar terbesar.

Sebagian indeks di BEI sudah dihitung menggunakan metode ini. Nanti IHSG juga akan dihitung dengan metode ini.

Penyesuaian dilakukan dengan mematok bobot maksimum emiten 9% dan mengeluarkan kepemilikan investor yang 5% atau lebih. Dus, seperti yang terjadi pada LQ45, saham dengan kapitalisasi besar tetapi saham beredar lebih kecil dibandingkan adjusted free float di pasar (27,2%), bobotnya akan turun dan sebaliknya.

Jika hari ini total bobot 10 saham terbesar adalah 40,6%, bobotnya akan naik menjadi 43,8% dengan menggunakan adjusted free float. Saham UNVR, TPIA, EMTK, dan akan DCII terdepak dari 10 besar.

Adanya perubahan bobot itu membuat investor institusi, terutama aset manajemen yang benchmarking ke IHSG, harus melakukan rebalancing terhadap portofolionya, yaitu menjual saham yang bobotnya turun (6 emiten) dan menambah yang bobotnya naik (4 emiten).

Buat investor ritel, yang umumnya tidak indexing, tidak ada kebutuhan untuk melakukan rebalancing.

Sumber: Koran Kontan. Edisi: Senin, 19 Juli 2021. Rubrik Portofolio – Wake Up Call. Halaman 4.

Leave a Reply