Ari Kuncoro: Harga Minyak dan Lonjakan Pandemi

Harga Minyak dan Lonjakan Pandemi

 

KOMPAS – (13/7/2021) Perkembangan minyak dunia sangat menarik untuk diamati, terutama karena ada hubungan timbal balik antara permintaan dan lonjakan pandemi Covid-19. Permintaan minyak dunia akan pulih jika lonjakan pandemi dapat dikendalikan sehingga terdapat ruang bagi perekonomian dunia untuk kembali tumbuh.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), sebagai suatu kartel, memengaruhi harga pasar dengan melakukan koordinasi antar anggotanya dalam menentukan volume produksi yang akan digelontorkan ke pasar dunia. Namun, OPEC kemudian menjadi korban dari kesuksesannya sendiri.

Tingginya harga minyak dunia memungkinkan negara-negara di Laut Utara dengan biaya produksi tinggi, seperti Norwegia, memasuki arena sehingga kekuatan OPEC sebagai suatu kartel tergerogoti. Belum lagi ketika Rusia dan beberapa pendatang baru yang lain juga menjadi pemain aktif. Akhirnya, OPEC sering dikatakan semakin tidak relevan sebagai price maker.

Pandemi Covid-19 tampaknya mengembalikan OPEC menjadi pemain utama dalam menentukan harga minyak dunia. Pandemi memaksa dunia melakukan langkah-langkah membatasi mobilitas manusia dalam berbagai bentuk. Sebagai akibatnya, sisi permintaan ekonomi dunia runtuh yang berdampak secara berantai pada rantai pasok yang tiba-tiba kehilangan pembeli.

Pada titik yang ekstrem, harga minyak internasional pernah mencapai zona negatif pada April 2020. Artinya, pemilik stok minyak mentah, demi mengurangi persediaannya, bersedia mengeluarkan uang agar ada orang lain yang mengambil kelebihan stok itu. Fenomena harga minyak mentah negatif hanya bertahan sebulan karena pada bulan berikutnya harga pulih dengan kenaikan 90 persen.

Kenaikan harga

Sejak Mei 2020, harga minyak internasional mendapat dorongan untuk naik, terutama dengan prospek pemulihan dua raksasa dunia, yaitu China dan Amerika Serikat. Pemulihan ekonomi China setelah mengalami kontraksi pada triwulanI-2020, berjalan bertahap selama tiga triwulan berikutnya dengan pertumbuhan positif masing-masing 3,2 persen; 4,9 persen; dan 6,5 persen, hingga tercapai pertumbuhan fenomenal 18,3 persen pada triwulan I-2021. Akibat kebijakan stimulus, perekonomian AS juga melejit dengan 4,3 persen dan 6,4 persen pada triwulan IV-2020 dan triwulan I-2021.

Harga minyak internasional pun terus merangkak naik. Pada Mei 2021, minyak mentah jenis Brent mencapai 70 dollar AS per barel. Kenaikan juga terjadi untuk harga minyak WTI.OPEC tampaknya mempunyai gigi kembali karena banyak produsen non-OPEC yang belum pulih. Pasokan pasar yang kecil menyebabkan OPEC kembali relevan sebagai kartel.

Namun, ada beberapa faktor yang menahan harga minyak (Rizvi, 2021) untuk tetap dalam kisaran 70-80 dollar AS per barel. Pertama, China mulai menggunakan cadangannya sehingga permintaannya ke pasar tunai (spot) turut berkurang. Ini juga merupakan bagian dari usaha untuk meredam kenaikan harga komoditas dunia. Kedua, dengan naiknya harga minyak, produsen minyak serpih (shale oil) di AS dapat kembali membanjiri pasar.

Bagaimana pasar minyak dunia akan berpengaruh pada perekonomian dalam negeri terjadi melalui harga minyak internasional dan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Sisi positifnya, nilai tukar rupiah masih cukup stabil. Salah satu penyebabnya adalah neraca dagang yang surplus pada Mei, yakni 2,36 miliar dollar AS. Secara kumulatif, surplus neraca dagang Januari-Mei 2021 mencapai 10,17 miliar dollar AS.

Salah satu risiko bagi nilai tukar rupiah adalah jika the Fed mempercepat taper tantrum karena inflasi yang sangat tinggi di atas 5 persen, seperti tahun 1970-an di AS. Bagi Indonesia, premi risiko tampaknya bukan hanya berasal dari kekhawatiran terhadap taper tantrum atau peningkatan suku bunga di AS. Namun, lebih sebagai akibat dari lonjakan kasus positif Covid-19 harian yang terjadi secara eksponensial. Hal ini tecermin dari depresiasi rupiah yang relatif cepat, dari Rp 14.320 per dollar AS ke Rp 14.460 per dollar AS dalam sehari.

Pengendalian lonjakan pandemi tampaknya menjadi acuan penting bagi pemodal portepel. Oleh karena itu, penting untuk menurunkan angka kasus positif harian sampai ke tingkat di bawah 10.000 kasus. Ini sangat berarti untuk menjaga keseimbangan eksternal makroekonomi yang diperlukan sebagai ruang bagi pemulihan ekonomi pasca pandemi.

 

Sumber: Harian Kompas. Edisi: Selasa, 13 Juli 2021. Rubrik Analisis Ekonomi. Halaman 1 bersambung ke Halaman 15.

Leave a Reply