LPEM FEB UI, Indonesia-Japan Policy Research Forum for Asia: Infrastructure, Technology, and Finance for Sustainable and Inclusive Development in Asia Beyond the Pandemic Day-1

LPEM FEB UI, Indonesia-Japan Policy Research Forum for Asia: Infrastructure, Technology, and Finance for Sustainable and Inclusive Development in Asia Beyond the Pandemic Day-1

 

Rifdah Khalisha – Humas FEB UI

DEPOK-(18/2/2021) Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) bekerja sama dengan Asian Development Bank Institute (ADBI), Graduate School of Public Policy (GraSPP) Universitas Tokyo, dan Toshiba International Foundation menggelar forum bertajuk “Infrastructure, Technology, and Finance for Sustainable and Inclusive Development in Asia Beyond the Pandemic” secara virtual, pada Kamis (18/2).

Pada hari pertama, forum menghadirkan Prof. Ari Kuncoro, Rektor Universitas Indonesia pada opening remarks, Tetsushi Sonobe, Dekan Asian Development Bank Institute pada welcome remarks, serta Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan Republik Indonesia pada keynote address.

Ari menuturkan bahwa webinar ini menjadi agenda bersama tahunan yang keempat kalinya antara UI, ADBI, dan GraSPP Universitas Tokyo, “Forum ini dapat menjadi sarana berbagi ilmu dan pengalaman antar pemangku kepentingan tentang pembangunan infrastruktur dan teknologi. Sesuai dengan topik hari pertama yang membahas kualitas layanan infrastruktur sosial di negara-negara Asia, perspektif luas perihal kebutuhan infrastruktur sosial, dan tantangan penyediaan infrastruktur sosial selama pandemi.

Sebagaimana telah diketahui bersama, pandemi menyebabkan hampir semua negara menghadapi tantangan multidimensi dengan segala keterbatasan. Hal ini mendorong permintaan sumber daya keuangan untuk pemulihan dampak pandemi. Dalam prosesnya, perlu kebijakan strategis sehingga sumber daya terbatas mampu mengatasi masalah yang ada dengan efisien dan efektif.

“Harapannya, upaya tersebut tidak hanya mengatasi dampak pandemi, tetapi juga memberikan efek pembangunan yang positif. Selain itu, saya juga berharap semua peserta forum mendapat wawasan baru dari diskusi yang bermanfaat ini sehingga bisa memahami tantangan dan masalah dalam lingkup Asia pada masa mendatang,” harap Ari.

Menurut Sri, perubahan iklim dan teknologi merupakan masalah yang saling berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi inklusif. Ia bahkan melihat kedua isu ini bisa menjadi tantangan sekaligus peluang.

“Di sisi lain, pemanfaatan teknologi digital masih membuka ruang persoalan sosial, khususnya aksesibilitas jaringan. Saat ini, konektivitas jaringan internet belum merata, wilayah kota masih identik dengan kualitas infrastruktur jaringan yang lebih baik daripada wilayah lainnya. Berdasarkan perkiraan, dari 75.000 desa di Indonesia, baru 20.000 desa yang mendapat akses jaringan internet dan komunikasi memadai,” papar Sri.

“Tersedianya pembiayaan, tentu membantu pembangunan infrastruktur dan teknologi bisa segera terpenuhi sesuai dengan prioritas kebutuhan masyarakat. Infrastruktur menjadi kebutuhan mutlak untuk mengurangi biaya distribusi dan mendorong kemudahan mobilitas masyarakat. Pembangunannya bisa berbentuk penyediaan fasilitas listrik, telekomunikasi, pelabuhan, bandara, air bersih, maupun sanitasi lain. Dengan begitu, standar kualitas hidup masyarakat bisa jauh lebih baik dari sebelumnya,” sambungnya.

Memasuki sesi pertama, pembicara membahas kebutuhan infrastruktur sosial di Asia. Pembicara yang hadir ialah Rana Hasan, Direktur Economic Research and Regional Cooperation Department (ERCD) ADB, Koki Hirota, Profesor Sekolah Pascasarjana Ilmu Humaniora dan Sosial, Universitas Saitama Jepang, serta Teguh Dartanto, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Riset, FEB UI.

Lalu, sesi kedua membahas kualitas layanan infrastruktur sosial. Tak kalah hebat, pembicara yang hadir, yakni Seng Molika, Direktur Departemen Umum Sains, Teknologi, dan Manajemen Data Inovasi, Kementerian Perindustrian, Sains, Teknologi, dan Inovasi (Kamboja), Nguyen Anh Duong, Institut Pusat untuk Manajemen Ekonomi (Vietnam), Meena Nair, Kepala Riset, Pusat Hubungan Masyarakat (India), serta Nicolas Buchoud, Pendiri Renaissance Urbaine Open Discussion.

     

Dalam materinya, Impact of COVID-19 on Social Infrastructure in Asia, Teguh menjelaskan kasus awal kehadiran COVID-19, “Menurut laporan, pada 1 Desember 2019 terdeteksi muncul gejala mirip COVID-19 di Hubei, Cina. Hingga akhirnya, WHO mengadakan pertemuan darurat yang menyatakan virus tersebut telah menjadi pandemi internasional pada 31 Januari 2020 lalu. Terkonfirmasi bahwa jumlah kasus COVID-19 di Asia menjadi yang terbesar ketiga.”

Teguh juga membahas dampak pandemi COVID-19 pada aspek mobilitas, pertumbuhan ekonomi, dan kemiskinan. Selain itu, pengaruhnya pada infrastruktur sosial, seperti pendidikan, kesehatan, perumahan umum, dan gedung pemerintah.

Selama pandemi, telah terjadi perubahan sistem pendidikan, termasuk potensi penurunan hasil belajar dan potensi putus sekolah. Penutupan institusi pendidikan mendorong pembelajaran jarak jauh dan penggunaan teknologi pendidikan berbasis digital. Pendapatan masyarakat pun kian menurun sehingga perlu penyesuaian pengeluaran untuk kebutuhan perumahan. Pandemi memaksa pekerja sektor publik beradaptasi dengan tempat kerja digital.

Pada bidang kesehatan, kapasitas rumah sakit di negara-negara Asia Pasifik sangat rendah. Di Asia, negara-negara berpenghasilan rendah ke menengah rata-rata memiliki 2 sampai 3 tempat tidur per 1000 penduduk. Kebutuhan akan layanan kesehatan, jumlah dokter dan tempat tidur, peralatan medis, obat-obatan, paket perawatan kesehatan masyarakat pun meningkat.

“Pandemi ini berdampak signifikan terhadap kondisi sosial ekonomi di Asia. Pandemi telah meningkatkan permintaan investasi dalam kebutuhan infrastruktur sosial, karenanya butuh beberapa penyesuaian. COVID-19 memperlebar kesenjangan pembiayaan antara investasi yang ada dengan kebutuhan infrastruktur sosial di Indonesia,” tutup Teguh.

Pemerintah dan masyarakat harus menghadapi banyak tantangan kesehatan, ekonomi, sosial, dan pemerintahan. Akibatnya, permintaan akan sumber daya keuangan kian meningkat. Bahkan, usai pandemi juga perlu rasa inklusif dan rasa aman yang lebih besar guna memastikan pemulihan pasca pandemi menuju pembangunan tangguh dan berkelanjutan di Asia.

Pandemi COVID-19 mengingatkan akan pentingnya infrastruktur sosial yang berkualitas, dengan penekanan khusus pada ketahanan, inklusivitas, dan keberlanjutan. Dalam hal ini termasuk infrastruktur bidang kesehatan, pendidikan, dan perumahan. Infrastruktur dapat mengatasi berbagai tantangan untuk meningkatkan inklusivitas serta rasa aman. Teknologi punya potensi besar mencapai tujuan tersebut. Adopsi teknologi yang baik, termasuk platform digital, dapat meningkatkan efektivitas penyediaan layanan infrastruktur.

Pada akhir forum, perwakilan dari berbagai negara-negara Asia membagikan pengalaman untuk mempertahankan kualitas layanan infrastruktur yang memadai setelah pandemi COVID-19 serta membahas tantangan yang infrastruktur sosial pada masa mendatang.

Leave a Reply