UKMC FEB UI mengisi konten video GERAKAN TOKO BERSAMA (BERSIH SEHAT MAJU)

0

UKMC FEB UI mengisi konten video GERAKAN TOKO BERSAMA (BERSIH SEHAT MAJU)

 

DEPOK – (18/12/2020) GERAKAN TOKO BERSAMA merupakan konsorsium sosial dari perusahaan-perusahaan di berbagai industri yang memiliki visi yang sama dan kepedulian untuk pemberdayaan toko dan warung kelontong yang bekerjasama dengan Kementrian Koperasi dan UKM RI dan UKM Center FEB UI dan dikelola oleh QASA PEDULI secara Independen.

Dalam kegiatannya, Gerakan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan, keahlian, akses, dan fasilitas yang bermanfaat bagi pemilik toko dan warung tradisional agar dapat bertahan menghadapi krisis dan terus berkembang setelahnya.

Sebagai langkah awal, gerakan ini memberikan sosialisasi dan edukasi kepada pemilik toko mengenai standar operasional toko yang bersih, sehat dan aman dalam rangka persiapan kehidupan normal baru (new normal) melalui distribusi e-book, video yang disebarkan secara gratis dan dapat diakses di laman http://www.gerakantokobersama.com.

Berkaitan dengan itu, UKM Center FEB UI (diwakili oleh Kepala, T.M. Zakir Machmud) sebagai salah satu mitra, di undang untuk mengisi materi video konten Gerakan ini sebagai salah satu narasumber dalam bincang-bincang dengan topik kiat sukses toko kelontong ditengah pandemi. Narasumber lainnya adalah Budi Darmawan dari PT Belfoods Indonesia. Acara ini dipandu oleh Dian Mustika (Tika) dari Retail Community, dan direkam di Studio Padepokan Karya, Kemang.

Dalam paparannya, UKMC menegaskan bahwa kunci sukses sebuah toko kelontong sangat bergantung pada tiga elemen penting, B-T-L yaitu: (i) Barang, (ii) Toko/tempat, dan (iii) Layanan. Elemen barang mencakup: kelengkapan jenis barang yang dijual, update varian terbaru dari barang yang dijual, stok barang yang mencukupi. Elemen toko/ tempat di antaranya mencakup: pencahayaan yang baik, desain grafis yang menarik, ketersediaan lahan parkir, penataan barang rapih dan mudah dijangkau. Sedangkan elemen layanan antara lain meliputi: jam operasional lebih lama, pelayanan yang ramah dan sigap, sebagai agen pembayaran (listrik, isi ulang e-money, laku pandai).

Selanjutnya, dijelaskan pula bahwa banyak toko kelontong yang menghadapi kesulitan berjualan dalam situasi pandemi seperti saat ini. Oleh karena itu, UKMC juga berbagi beberapa tips agar usaha tokonya bisa bertahan dan berkembang. Selain harus harus jeli melihat dan menangkap peluang, pemilik toko juga harus kreatif dan inovatif agar pembeli mau berbelanja kembali di tokonya.

Berangkat dari konsep B-T-L dan dalam rangka menghadapi pandemi, toko kelontong bisa beradaptasi dan berinovasi dengan melakukan hal-hal berikut, misalnya fokus menjual barang-barang varian terbaru yang banyak dicari pembeli atau yang berukuran lebih kecil dengan harga yang lebih terjangkau. Bisa juga menambah variasi barang jualan dengan menjadi outlet bagi produk-produk UMKM di sekitarnya.

Sementara untuk elemen toko/tempat, pemilik toko kelontong harus memberikan keyakinan bagi pembeli bahwa belanja di tokonya sudah aman dan memenuhi protokol kesehatan (menyediakan sarana cuci tangan, pelayan menggunakan masker/pelindung muka, melengkapi dengan tabir plastik, dan lain-lain). Bekerja sama dengan beberapa penjual makanan menjadikan toko kelontong sebagai tempat nongkrong.

Terkait elemen layanan, pemilik toko kelontong bisa menawarkan layanan-layanan baru, seperti layanan pemesanan barang dan/atau pembayaran melalui digital, menyediakan pick up point untuk pengambilan barang oleh pembeli, menyediakan layanan antar barang ke rumah, penundaan pembayaran (“ngebon”) dan masih banyak lagi. (hjtp)