Webinar PEBS FEB UI, “Optimalisasi Ekonomi Pesantren Berbasis UKMK Sawit” dan Penutupan Program

Webinar PEBS FEB UI, “Optimalisasi Ekonomi Pesantren Berbasis UKMK Sawit” dan Penutupan Program

 

DEPOK – (18/11/2020) Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah (PEBS) FEB UI bersama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP KS), yang didukung oleh Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) menyelenggarakan webinar bertemakan “Optimalisasi Ekonomi Pesantren Berbasis UKMK Sawit” pada Rabu (18/11/2020). Kegiatan ini sekaligus merupakan penutupan program “Pengembangan Potensi Santripreneur Berbasis UKMK Sawit, sebagai Program Pemberdayaan Ekonomi Daerah”.

Narasumber utama dalam kegiatan ini adalah Jamil Abbas, Kepala Divisi Keuangan Inklusif Syariah, Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), dengan moderator Hapsari Setyowardhani, Dosen Departemen Manajemen FEB UI.

Kegiatan ini dibuka oleh Rahmatina Awaliah Kasri, Kepala PEBS FEB UI, yang menyampaikan bahwa pesantren memiliki potensi dalam pengembangan ekonomi umat dan diharapkan dapat menjadi salah satu pendorong akselerasi ekonomi syariah, industri halal, dan kemandirian ekonomi. Namun dalam kenyataannya kondisi yang terjadi belumlah optimal karena masih banyak usaha pesantren yang belum berkembang.

Dengan dukungan dari BPDP KS, maka kegiatan pengembangan santripreneur berbasis UKMK sawit dapat terlaksana. Tujuan kegiatan adalah untuk menumbuhkan budaya kewirausahaan dalam lingkungan pesantren, guna mengoptimalkan potensi ekonomi berbasis produk kelapa sawit dan turunannya, dan meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan ekonomi pondok pesantren dan lingkungannya, baik secara kelembagaan maupun personil para pelakunya.

Kegiatan pendampingan tersebut telah diselenggarakan di tiga provinsi yang memiliki potensi pengembangan kelapa sawit, yaitu Sumatera Utara, Riau, dan Sumatera Selatan, dan diikuti oleh total 90 peserta. Rahmatina juga menjelaskan bahwa kegiatan ini sudah menghasilkan berbagai usaha di pesantren, sebagian merupakan produk terkait sawit secara langsung seperti pembibitan sawit, produk sabun herbal, maggot, dan lain lain, sementara sebagian lainnya merupakan kaligrafi, air minum kemasan, kuliner, dan sebagainya.

Di dalam pemaparannya, Jamil Abbas, menuturkan bahwa Baitul Maal wat Tamwil (BMT) merupakan model keuangan syariah yang unik karena menggabungkan social finance dan commercial finance. Perbedaan BMT dengan lembaga konvensional adalah keberadaan ZISWAF (Zakat, Infak, Sedekah, Wakaf) sehingga menjadikan BMT sebagai lembaga microfinance yang komprehensif karena memiliki produk untuk semua segmen masyarakat yang dilayani.

Spirit asli dari BMT ialah peningkatan kesejahteraan umat di segmen yang lemah dengan menghadirkan layanan keuangan syariah yang tepat. Jika ingin mendirikan BMT di pesantren, maka niatkan sebagai mesin pemberdayaan ekonomi pesantren untuk kesejahteraan bersama dan melibatkan seluruh stakeholder yang ada di pesantren. Sementara, program kolaborasi layanan keuangan syariah (KoLaKS) dari KNEKS juga untuk menghadirkan layanan keuangan syariah yang tepat di lingkungan pesantren, melalui pendirian Unit Layanan Keuangan Syariah.

Dengan demikian, program ini diperuntukkan untuk meningkatkan sinergi dan kolaborasi demi kesejahteraan bersama.

Kegiatan ini ditutup dengan arahan oleh Helmi Muhansah, Kepala Divisi UKMK BPDP KS. Helmi mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan ini, yaitu PEBS FEB UI, IAEI, dan para peserta dari pesantren yang sudah mengikuti kegiatan ini. Ke depannya, program ini diharapkan dapat terus berlanjut setelah melakukan evaluasi dan perbaikan serta dapat terus berkolaborasi dengan stakeholders terkait, termasuk KNEKS untuk memperluas wilayah kegiatan dan memperdalam materi yang bisa disampaikan kepada para peserta pesantren berbasis UKMK sawit.

Kolaborasi juga bisa dilakukan dengan mitra yang saat ini ada di BPDP KS, seperti SBRC IPB untuk bisa menghasilkan sabun, hand sanitizer, dan kosmetik-kosmetik sawit yang diharapkan nantinya bisa diajarkan ke para peserta. Selain itu, ada juga kerjasama dengan BPPT terkait batik yang berbasis sawit, sehingga sudah bisa diajarkan nanti ke para peserta. Kerjasama lainnya adalah dengan Masyarakat Biohidrokarbon Indonesia ITB, yaitu membuat bensin sawit, harapannya pesantren-pesantren berbasis ukmk sawit bisa memanfaatkan potensi biohidrokarbon ini.

Helmi menyampaikan bahwa BPDP KS siap berkolaborasi dengan pesantren berbasis ukmk sawit dan stakeholder lainnya untuk pengembangan sawit berkelanjutan. (hjtp)

 

Leave a Reply