General Lecture PPIA FEB UI: Using Technology in Accounting Teaching and Research – A Complement or A Substitute? Lesson from Covid-19 Era

General Lecture PPIA FEB UI: Using Technology in Accounting Teaching and Research – A Complement or A Substitute? Lesson from Covid-19 Era

 

Nino Eka Putra ~ Humas FEB UI

DEPOK – (20/11/2020) Ferdinand Siagian, Ph.D., Associate Professor of Accounting, Minnesota State University Mankato, menjadi narasumber dalam General Lecture yang diselenggarakan oleh Program Pascasarjana Ilmu Akuntansi (PPIA) FEB UI, bertajuk “Using Technology in Accounting Teaching and Research: A Complement or A Substitute? Lesson from Covid-19 Era” pada Jumat (20/11/2020). Acara ini dibuka oleh Dr. Ancella A. Hermawan, Ketua Departemen Akuntansi FEB UI dan dipandu oleh Yulianti Abbas, Ph.D., Ketua Program Studi PPIA FEB UI.

Di dalam pemaparannya, Ferdinand Siagian, menyampaikan bahwa adanya Covid-19, membuat pemikiran kita semakin terbuka dengan memanfaatkan berbagai macam platform teknologi yang memudahkan aktivitas manusia. Kemajuan teknologi tersebut tak dipungkiri akan berdampak pada tenaga pendidik di bidang Akuntansi. Sebagai contoh, perusahaan yang bergerak di bidang Akuntansi mendatangi mahasiswa di University Mankato untuk melakukan diskusi, tentang bagaimana mereka melakukan audit, tax, consulting di masa pandemi secara online tanpa bertemu dengan klien.

University Mankato mengacu pada 3 skenario, yaitu skenario pertama, apabila jumlah positif Covid-19 sebesar 300-400 orang, maka pembelajaran masih diberlakukan face to face. Skenario kedua, apabila situasi semakin memburuk, maka pembelajaran dilakukan secara hybrid dengan membatasi pertemuan dan jumlah orang. Skenario ketiga, pembelajaran secara full dilakukan secara online, karena kondisi semakin darurat dan waspada.

Dari kasus tersebut, Ferdinand mengimplementasikannya dalam sebuah riset, bahwa pendidikan akuntansi awalnya diajarkan melalui face to face, namun dengan perkembangan teknologi memungkinkan adanya perubahan berupa online (hybrid) dan full online (synchronous, asynchronous).

“Ada tiga perspektif untuk future research. Pertama performance perspective, artinya boleh saja digantikan oleh mesin tapi harus dijamin performa antara menggunakan jasa faculty sama saja dengan mesin tersebut. Kedua, faculty and employers perspective, artinya apabila menggunakan online, tidak mempersulit faculty and employers. Ketiga, student perspective, artinya berdiskusi dengan mahasiswa meminta pendapat mereka tentang apakah bersedia kuliah tanpa dosen atau hanya menggunakan mesin,” jelas Ferdinand.

Teknologi dan sumber daya kini ditawarkan oleh publishers, apakah teaching faculty bisa digantikan atau tidaknya, dengan intelligent adaptive study plan, automatically graded quizzes, automatically graded HW problems, automatically graded tests, e-book, powerpoint, sample videos, automatic grading. “Semua ini tergantung dari kebutuhan mahasiswa, apakah siap atau tidaknya untuk kuliah tanpa teaching faculty, tolak ukur opini dan kepercayaan mahasiswa, dan tolak ukur performa mahasiwa. Kendati demikian, riset ini memberikan suatu penelitian bahwa kualitas faculty harus ditingkatkan lagi dengan berbagai inovasi agar tetap bisa bersaing dengan teknologi,” demikian Ferdinand menutup sesinya. (htjp)

 

Leave a Reply