Muhamad Chatib Basri: Resesi dan Pembalikan Ekonomi

Muhamad Chatib Basri: Resesi dan Pembalikan Ekonomi

 

Nino Eka Putra ~ Humas FEB UI

DEPOK – Rabu (11/11/2020), Muhamad Chatib Basri, Pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, merilis tulisannya yang dimuat di Harian Kompas, rubrik Opini, yang berjudul “Resesi dan Pembalikan Ekonomi”. Berikut tulisannya.

“Resesi dan Pembalikan Ekonomi”

Resesi mungkin tercium dari dapur. Tentu, ini terlalu menyederhanakan. Namun, ingatan kita yang paling dekat dengan resesi ekonomi di negeri ini mungkin adalah tentang warung-warung tenda yang menjamur pada malam hari di pelbagai belahan Jakarta tahun 1997-1998.

Orang harus bertahan hidup, salah satunya dengan membuka warung tenda. Menjual makanan. Gambar yang mirip, kita temui hari ini, ketika pandemi Covid-19 memukul ekonomi. Kita melihat bagaimana media sosial dipenuhi tawaran dari para penjual makanan. Berbagai ”dapur” muncul.

Pembatasan fisik memaksa warung-warung tenda berubah menjadi warung-warung online. Esensinya sama: menawarkan makanan. Resesi, di samping membawa kecemasan, juga memacu kreativitas. Salah satunya melalui usaha informal, seperti aktivitas informal.

Pembalikan ekonomi mulai terjadi

Badan Pusat Statistik (BPS) membenarkan bukti anekdotal ini: per Agustus 2020, persentase pekerja penuh turun dari 71,04 persen menjadi 63,85 persen dari total penduduk bekerja. Sementara pekerja informal meningkat menjadi 60,47 persen pada Agustus 2020 dari 55,88 persen pada Agustus tahun lalu (year-on-year) akibat pandemi Covid-19.

Tak hanya itu, minggu lalu, BPS mengumumkan: ekonomi Indonesia mengalami kontraksi 3,49 persen year -on-year dalam triwulan ketiga 2020. Kita masuk dalam resesi. Tetapi, ada harapan di sana: kontraksi di triwulan ketiga 2020 lebih kecil dibandingkan dengan kontraksi triwulan kedua 2020 yang 5,32 persen.

Artinya, pembalikan (turn around) sudah mulai terjadi. Hampir semua komponen dalam produk domestik bruto (PDB) dari sisi pengeluaran membaik. Pengeluaran pemerintah, yang didominasi oleh stimulus untuk perlindungan sosial, tumbuh 9,76 persen, melompat dibanding triwulan kedua yang sebesar minus 6,9 persen.

Akibatnya, konsumsi pemerintah mampu bersifat kontra siklus dan berkontribusi positif sebesar 0,72 persen untuk pertumbuhan ekonomi. Kita bisa melihat, tanpa stimulus fiskal, kontraksi ekonomi akan jauh lebih dalam. Saya kira kita perlu memberikan apresiasi terhadap ini. Saya berkali-kali menyampaikan: betapa pentingnya mendorong permintaan melalui program sosial, seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT). Sekarang terbukti dengan mulai membaiknya konsumsi rumah tangga.

Bagaimana investasi? Sayangnya, walau kontraksi investasi secara total mulai melambat, investasi utama, seperti bangunan, mesin dan perlengkapan mengalami kontraksi yang lebih dalam. Ekspansi produksi masih sangat lambat. Seperti pernah saya sampaikan, sisi produksi belum akan bergerak sebelum permintaan didorong terlebih dahulu. Kebijakan moneter dengan menurunkan suku bunga tidak akan efektif jika permintaan masih lemah.

Faktor Biden

Dengan gambaran itu, bagaimana prospek kita untuk keluar dari resesi? Kapan kita keluar dari resesi? Bagaimana peran eksternal dalam pemulihan ekonomi, apalagi dengan terpilihnya Joe Biden sebagai presiden ke-46 Amerika Serikat? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, kita harus memperhatikan beberapa hal.

Pertama, situasi ekonomi global, termasuk harga komoditas dan energi yang walaupun sudah mulai membaik, belum sepenuhnya kembali. Dugaan saya, ketegangan antara AS dan China tak akan segera berakhir dengan terpilihnya Joe Biden. Isu China-AS ini lebih dari sekadar isu perdagangan. Ini adalah ketegangan yang dipicu oleh rivalitas dua raksasa ekonomi dunia.

Dalam isu ini, saya duga baik Republikan maupun Partai Demokrat akan mendukung posisi AS dalam soal rivalitas antara AS dan China. Trump hanyalah pemicu, ia mampu mengartikulasikan luka lama yang selama ini tersimpan di dalam. Karena itu, kita harus tetap bersiap untuk sebuah ketegangan yang panjang, walau mungkin bukan dalam bentuk perang dagang terbuka. Implikasinya, sementara, kita harus bertumpu pada ekonomi domestik.

Pulih mulai triwulan I-2021

Kedua, lalu seberapa cepat pemulihan ekonomi domestik? Eksperimen saya dengan data perubahan stok (persediaan) dari BPS menunjukkan sesuatu yang menarik. Saya sadar, data perubahan stok harus diinterpretasikan dengan sangat hati-hati. Ada soal dalam akurasinya. Data BPS menunjukkan: stok menumpuk dan meningkat tajam dalam triwulan kedua 2020 karena melemahnya permintaan secara tak terduga akibat penerapan pembatasan sosial berskala besar/PSBB (demand shock).

Namun, tumpukan stok mulai menurun di triwulan ketiga 2020. Alasannya: permintaan mulai meningkat dan dunia usaha mulai melakukan penyesuaian produksi. Artinya: permintaan, walau terbatas, memang sudah mulai naik. Ini konsisten dengan data konsumsi rumah tangga.

Perhitungan kuantitatif yang saya lakukan menunjukkan: jika perusahaan bisa mengantisipasi situasi ekonomi, perubahan stok memang akan relatif rendah saat permintaan masih lemah. Namun, ia mulai meningkat dua triwulan setelah itu ketika permintaan mulai membaik. Dengan perhitungan ini, ada kemungkinan stok akan kembali naik pada triwulan pertama 2021.

Mudahnya: permintaan yang meningkat akan membuat penggunaan kapasitas produksi meningkat. Implikasinya: perusahaan harus menambah investasi dan menjaga stok pada tingkat tertentu untuk mengantisipasi adanya tambahan permintaan. Karena itu, pada saat ekonomi kembali meningkat, stok juga akan meningkat (accelerator effect) sejalan dengan perbaikan ekonomi, seperti hipotesis Blinder dan Maccini (1991).

Kita juga melihat bahwa impor barang modal dan bahan baku mulai meningkat pada bulan September 2020. Artinya, proses produksi dan investasi mulai berjalan. Senjang waktunya sekitar enam bulan. Implikasinya: ada peluang ekonomi Indonesia akan tumbuh positif atau keluar dari resesi pada triwulan pertama 2021.

Jika kita mengasumsikan bahwa tidak ada gelombang kedua dari pandemi, ada harapan bahwa pemulihan akan berbentuk swoosh shape (seperti logo sepatu Nike): mencapai titik terendah di triwulan kedua 2020, setelah itu berangsur membaik.

Ketiga, bagaimana pola konsumsi rumah tangga? Perhitungan yang dilakukan Office of Chief Economist Bank Mandiri menunjukkan, pandemi memang memukul semua kelompok pendapatan. Pekerja tetap terkena dampak yang relatif paling kecil, tetapi pekerja informal dan wiraswasta mengalami penurunan pendapatan yang lebih tajam, masing masing turun menjadi 60 persen dan 80 persen dari kondisi normal.

Kita bisa melihat, kelompok menengah bawah (pekerja informal) yang terpukul paling berat. Itu sebabnya, langkah pemerintah memberikan bantuan sosial, seperti BLT adalah langkah yang tepat. Yang menarik, studi itu juga menunjukkan bahwa nilai belanja dari kelompok yang berpendapatan rendah mulai kembali meningkat walau masih berada pada tingkat 83 persen dari kondisi normal.

Ironisnya, nilai belanja kelompok berpendapatan tinggi hanya 71 persen dari kondisi normalnya. Apa artinya? Yang berbelanja adalah kelompok menengah bawah. Kelompok menengah atas? Masih ogah belanja. Mengapa? Mungkin karena aktivitas mereka membutuhkan mobilitas yang tinggi. Selama kondisi kesehatan belum teratasi, mereka mengurangi belanjanya. Sayangnya, konsumsi rumah tangga didominasi oleh belanja kelas menengah atas.

Selain itu, ada hal yang menarik dari perilaku kelas menengah atas: di samping cenderung menabung – mungkin mengantisipasi kondisi ekonomi ke depan—mereka juga mengubah belanjanya pada aktivitas kegemaran (hobbies). Belanja untuk hobbies bahkan sudah berada 10 persen di atas kondisi normal pra Covid-19. Ini membantu menjelaskan fenomena urban mengapa pembelian sepeda, tanaman hias, ikan hias marak akhir-akhir ini. Orang membutuhkan aktivitas ketika tinggal di rumah.

Pola wisata juga berubah. Orang cenderung memilih bepergian dengan kendaraan pribadi dan tinggal di vila atau penginapan yang privat atau terpisah. Intinya, aktivitas cenderung menjadi privat untuk menghindari penularan. Saya melihat bahwa dunia usaha dengan kreativitas dan inovasinya sebenarnya bisa memanfaatkan kesempatan yang muncul akibat perubahan perilaku ini.

Keempat, selama pandemi masih terjadi, protokol kesehatan harus tetap diterapkan. Untuk menjaga jarak fisik, maka restoran, mal, kantor, pabrik tak bisa beroperasi 100 persen. Akibatnya, skala ekonomis sulit tercapai. Apabila skala ekonomi tak tercapai, perusahaan tak bisa memenuhi titik impasnya (break even point). Dengan ini perusahaan akan mengalami kerugian.

Studi Bank Mandiri menunjukkan titik impas untuk restoran  tercapai jika volume mencapai sekitar 67 persen, angkutan udara 68-75 persen, industri semen sekitar 53 persen. Ritel mungkin akan lebih cepat pulih karena titik impasnya ada pada kisaran 32 persen untuk FMCG dan 42 persen untuk non-FMCG. Apabila volume masih rendah, untuk apa menambah investasi? Implikasinya, investasi swasta tampaknya belum akan meningkat tajam tahun 2021.

Protokol kesehatan hingga 2022

Kelima, jalan pemulihan ekonomi memang masih panjang. Mengapa? Kita memang berharap bahwa vaksin akan membantu menyelesaikan soal pandemi ini. Namun, pemerintah perlu tetap bersiap dengan skenario lain jika vaksin belum berhasil atau membutuhkan waktu yang amat panjang.

Tengok matematika ini: jika vaksin tersedia bulan Januari 2021, lalu didistribusikan kepada 102 juta penduduk Indonesia sepanjang tahun 2021, seperti pernyataan Menko Perekonomian, setiap hari pemerintah harus melakukan vaksinasi untuk hampir 280.000 orang.

Mampukah kita? Jika toh mampu, dibutuhkan waktu yang panjang untuk melakukannya. Pemerintah harus memiliki sumber daya yang besar untuk melakukan vaksinasi. Belum lagi jika vaksin itu harus dilakukan dua kali.

Sekretaris Eksekutif Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPPEN) Raden Pardede mengatakan, dibutuhkan rencana yang matang untuk distribusi vaksin, termasuk penggunaan boks dengan temperatur tertentu dan stabil.

Cukupkah semua logistik untuk nantinya 170 juta penduduk Indonesia? Dengan kondisi ini, bukan tak mungkin protokol kesehatan baru bisa dilepas sepenuhnya tahun 2022. Artinya, ekonomi baru akan kembali normal tahun 2022. Selama vaksin belum tersedia, alternatif lain harus tetap dijalankan, tes, lacak dan isolasi harus tetap dilakukan untuk mencegah jangan sampai pandemi merebak. Jika pandemi merebak lagi, pola pemulihan ekonomi akan bisa berbentuk W.

Ketimpangan pasca-Covid-19

Keenam, jika kondisi eksternal belum mendukung, investasi swasta masih lambat, maka stimulus fiskal, khususnya untuk kesehatan, perlindungan sosial, dan bantuan UMKM harus dilanjutkan tahun 2021. Desain dan data perlindungan sosial serta alokasi dan penyerapan anggaran untuk pemulihan ekonomi tentu harus terus diperbaiki.

Lepas dari itu, satu hal yang amat penting diperhatikan adalah risiko meningkatnya ketimpangan pendapatan pasca-Covid-19. Kelompok menengah atas mungkin akan mampu keluar dari krisis ini. Mereka punya tabungan, mereka memiliki akses digital.

Mereka yang bisa bertahan adalah mereka yang bisa melakukan transformasi digital, sementara akses digital tak murah, dan tak juga merata. Di sisi lain, kesejahteraan kelas menengah bawah berisiko terus menurun. Karena itu, kondisi pasca-pandemi akan diwarnai risiko meningkatnya ketimpangan pendapatan. Itu sebabnya, desain kebijakan fiskal sejak awal harus diarahkan untuk perbaikan akses kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan dasar, termasuk mengatasi kesenjangan jender. Keterbatasan akses digital, misalnya, harus diatasi dengan penyediaan infrastruktur digital untuk masyarakat kelas menengah bawah.

Resesi mungkin mencemaskan. Ia mungkin punya ingatan tentang dapur, tentang naiknya sektor informal. Kita memang memasuki resesi. Namun, soal kita bukan definisi. Soal kita adalah mitigasi kebijakan. Ekonomi tak akan pulih tanpa penanggulangan pandemi. Pembalikan ekonomi mulai terjadi, tapi kerja belum selesai. Banyak hal perlu diperbaiki. Kita tak bisa menutup mata sambil mengutip Walt Disney, ”I’ve heard there’s going to be a recession. I’ve decided not to participate”. Disney mungkin terdengar menyenangkan, tapi kita tahu: ia dunia fantasi. (hjtp)

 

Sumber: Harian Kompas. Edisi: Rabu, 11 November 2020. Rubrik Opini. Halaman 6.

Leave a Reply