GNAM Week Day 3: MM FEB UI Fokus pada Pariwisata dan Penerbangan di Era Covid-19

GNAM Week Day 3: MM FEB UI Fokus pada Pariwisata dan Penerbangan di Era Covid-19

 

Nino Eka Putra ~ Humas FEB UI
Nisa Adzhani L, Nara Pangestika Vidyani, dan Silvia Tri Handayani ~ Mahasiswa MM FEB UI

DEPOK – Rabu (21/10/2020) Hari Ketiga Global Network Week, Global Network for Advanced Management (GNAM) yang bertemakan “Winning Strategies for Small and Medium Size Businesses Amidst Covid-19 Pandemic” fokus pada pariwisata dan penerbangan.

Session 1: Survival and Planning Recovery for the Most Impacted Industry

Pada sesi ini, pemaparan materi dibahas bersama dua narasumber, yaitu Rizki Handayani Mustafa, Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta Edwin Hidayat Abdullah, Vice President Director PT Angkasa Pura II, dengan moderator Dr. Yasmin Nasution.

Rizki Handayani Mustafa, sebagai narasumber pertama, menjelaskan bahwa pada tahun 2019 Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dengan taglineWonderful Indonesia,’ telah menyiapkan strategi untuk melakukan pengembangan dan pemasaran produk pariwisata secara komprehensif, dari tingkat hulu hingga hilir. Tahun 2020, secara mendadak terjadi Covid-19 yang menyebabkan dunia pariwisata terkena dampak, berupa jumlah wisatawan yang menurun dan aspek pendukung pariwisata terkena imbas yang parah, sehingga strategi harus diubah.

Untuk itu, Indonesia melakukan upaya pemulihan melalui optimalisasi media sosial berupa webinar, virtual event, dan promosi melalui content creator. Sektor pariwisata dan ekonomi kreatif juga harus mempersiapkan diri saat era new normal dengan cara protokol kesehatan, membangun kepercayaan publik, meningkatkan keinginan wisatawan, dan menciptakan daya tarik pariwisata.

Edwin Hidayat Abdullah, sebagai narasumber kedua, menambahkan bahwa pandemi Covid-19 menyebabkan penurunan pergerakan lalu lintas Angkasa Pura II yang belum pernah terjadi sebelumnya hingga Q3-2020. Dampaknya terhadap Indonesia adalah penurunan tajam turis asing, peringkat kedua negara paling berisiko untuk dikunjungi di Asia Pasifik, pembatalan rencana perjalanan 45.000 turis, pembatalan beberapa acara penting di Jakarta, ditutupnya 700 hotel di seluruh Indonesia, serta penurunan tajam rute domestik dan pembatalan rute Internasional. Prakiraan pertumbuhan PDB dalam skenario terburuk bisa turun menjadi 0 hingga -2,5%, dan transaksi berjalan tumbuh defisit.

Menurut Edwin, pariwisata dan penerbangan memiliki potensi besar, namun masih menghadapi beberapa tantangan. Wisatawan domestik diprediksi menjadi pendorong utama peningkatan sektor pariwisata Indonesia pasca Covid-19. Dua hal penting untuk pariwisata kita adalah pariwisata tanpa batas dan keterlibatan masyarakat. Wisatawan juga membutuhkan kepastian selama bepergian, untuk menciptakan lebih banyak pengalaman dan level aman untuk bepergian.

Session 2: How Indonesia Tourism Industry Adapting to the New Normal; Bali and Beyond

Pada sesi 2, pemaparan materi dibahas bersama dua narasumber yaitu Iswandi Said, President Director PT. Hotel Indonesia Natour pada segmen pertama, Ida Ayu Indah Yustikarini, Head of Tourism Marketing Division of the Tourism Office (Bali province) pada segmen kedua, dengan moderator Hasnul Suhaimi.

Iswandi Said, sebagai narasumber pada segmen pertama, memaparkan bahwa Hotel Indonesia Natour (HIN) adalah sebuah perusahaan BUMN yang bergerak di bidang jasa perhotelan yang dikenal secara komersial sebagai Inna Hotels and Resorts. Sama seperti perusahaan lain, HIN menghadapi tantangan selama era Covid-19, dengan tiga tantangan terbesar yaitu tingkat hunian dan produktivitas yang lebih rendah, tidak ada pertumbuhan pelanggan baru, dan tetap beroperasi di tengah gelombang penutupan hotel. Lanjut Iswandi, untuk mengatasi tantangan tersebut, HIN menetapkan lima strategi prioritas dengan poin-poin utama, yaitu keselamatan, perhotelan dan fleksibilitas, keberlanjutan, kreativitas, dan sinergi.

Ida Ayu Indah Yustikarini, sebagai narasumber pada segmen kedua, menyampaikan bahwa sebelum pandemi melanda, pariwisata telah menyumbang sekitar 53% untuk perekonomian Bali, namun karena dilarang berkeliling selama pandemi, jumlah turis turun drastis. Bali menyiapkan strategi penanganan Covid-19 dengan membaginya berdasarkan struktur tingkat desa adat, kabupaten hingga provinsi.

“Pariwisata era new normal di Bali juga akan fokus pada empat elemen inti, yaitu kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan lingkungan, sebagai respon terhadap situasi pandemi ini untuk masa depan yang lebih baik. Saat ini Bali masih aktif dengan strategi pemasaran pariwisata termasuk branding (Wonderful Indonesia, Thoughtful Indonesia, Indonesia Care and I do care), dan advertising (melalui media sosial), serta selling (soft campaign melalui influencer dan key opinion leader),” demikian Ida Ayu menutup sesinya. (hjtp)

 

Leave a Reply