Budi Frensidy: Pepesan Kosong dalam Portofolio

0

Budi Frensidy: Pepesan Kosong dalam Portofolio

 

Nino Eka Putra ~ Humas FEB UI

DEPOK – Senin (12/10/2020), Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal FEB UI, Budi Frensidy merilis tulisannya yang dimuat koran Kontan, rubrik Bursa – Wake Up Call, halaman 3, yang berjudul “Pepesan Kosong dalam Portofolio”. Berikut artikelnya.

“Pepesan Kosong dalam Portofolio”

Apa kesalahan utama investor ritel di bursa saham? Ada yang menjawab ikut-ikutan (herding) membeli saham saat harganya naik, alias buy on rumors, dan menjualnya ketika harganya ternyata mengalami koreksi, atau istilah bekennya sell on facts.

Yang lain bilang kesalahan investor ritel adalah panic selling. Tidak ada yang salah dengan jawaban-jawaban di atas. Mungkin hal-hal itulah yang mereka alami. Namun, literatur investasi mencatat, kesalahan investor ritel adalah sell the winners too soon and hold the losers too long.

Menurut Shefrin dan Statman (1985), pelaku pasar cenderung menyimpan saham pecundang terlalu lama, sementara saham jagoan terlalu cepat dijual untuk profit taking. Ini terjadi di hampir seluruh bursa dunia. Kondisi ini disebut dengan efek disposisi. Apakah Anda sendiri pernah atau sedang mengalami bias ini?

Silakan periksa portofolio investasi Anda. Jika saham losers lebih banyak daripada saham winners, Anda harus mengakui bias tersebut. Alternatif lain untuk mengujinya adalah dengan membuka catatan penjualan saham yang telah Anda lakukan selama setahun terakhir.

Jika saham yang Anda lepas lebih banyak yang untung daripada yang rugi, Anda tentu tidak dapat mengelak lagi. Dengan kata lain, Anda lebih banyak merealisasikan keuntungan daripada kerugian.

Terakhir, masih ada cara lain untuk memastikan apakah Anda terpengaruh efek ini atau tidak. Selama tahun ini, silakan bandingkan keuntungan hasil penjualan saham dengan keuntungan yang ada dalam portofolio Anda. Jika realized gain yang Anda peroleh lebih besar daripada unrealized gain, Anda jelas terkena efek disposisi ini.

Ketika Camerer dan Weber (1998) melakukan penelitian ini, mereka mendapatkan ketiga pendekatan di atas memberikan hasil yang sama, yaitu mendukung teori ini. Mengapa kondisi ini dapat terjadi?

Berbeda dengan teori keuangan tradisional yang mengatakan manusia itu adalah risk averse, behavioral finance (BF) menyatakan kalau manusia itu sebenarnya loss averse, dan bukan risk averse. Buktinya, saat harga sahamnya turun di bawah harga belinya, investor ritel cenderung untuk menahannya, dengan harapan harga sahamnya kembali naik dan kerugian kembali berubah menjadi keuntungan.

Berbagai studi yang telah dilakukan menunjukkan manusia merasakan kerugian jauh lebih dalam dan lebih lama daripada efek keuntungan dengan jumlah uang yang sama (Kahneman dan Tversky, 1979). Siapa pun sepakat kalau kerugian selalu membawa kesedihan dan kekecewaan, sementara keuntungan mendatangkan kepuasan dan kesenangan.

Namun, derajat kesedihan dan kesenangan yang ditimbulkan untuk nilai uang yang sama sungguh jauh berbeda. Dampak kerugian sebesar $500 relatif lebih besar daripada efek keuntungan $500. Rasa sakit dari rugi $500 ekuivalen dengan rasa senang dari keuntungan $2.000 (lihat gambar).

Itulah inti dari teori prospek, yang membuat Kahneman mendapatkan nobel ekonomi di tahun 2002, dan menjadi satu-satunya psikolog yang meraih nobel ekonomi hingga saat ini. Bahwa seorang investor ternyata lebih cenderung loss averse dan menjadi risk seeker di daerah kerugian. Kurva kepuasan (utilitas) di daerah keuntungan adalah konkaf, sementara kurva utilitas di daerah kerugian adalah konveks.

Dalam investasi saham, kerugian berarti salah memilih saham. Merealisasikan kerugian berarti mengakui kesalahan ini. Jika pengambilan keputusan yang salah ini diketahui orang lain, dampak pengakuan salah menjadi lebih besar lagi, karena ada rasa malu.

Orang lain sangat mungkin akan menilai kemampuan investor tadi kurang. Pandangan seperti ini cukup menyakitkan dan menurunkan harga diri seorang investor. Ilmu psikologi mengajarkan bahwa manusia cenderung menilai dirinya sendiri positif dan kompeten.

Lebih lanjut, BF mengatakan kalau investor juga tidak bersedia merealisasikan kerugiannya karena ingin meminimumkan future regret. Menjual saham rugi membuka kemungkinan timbulnya penyesalan yang lebih besar di kemudian hari jika harga saham kembali naik.

Di lain pihak, merealisasikan kerugian juga menutup kemungkinan keputusan awal, yaitu pembelian saham, sebenarnya tepat. Bahwa investor tersebut sesungguhnya piawai dan berpengalaman.

Jika kemudian harga saham tersebut naik, investor itu tidak saja menderita kerugian, tetapi juga mengalami penyesalan yang luar biasa besar. Pasalnya, investor tersebut akan merasa telah melakukan dua kesalahan berturut-turut.

Pertama, ia membeli saham losers. Kedua, ia melepaskan saham tersebut pada saat yang tidak tepat. Efek keputusan kedua membawa konsekuensi emosional yang lebih dalam, jauh di atas efek keputusan pertama. Untuk meminimumkan penyesalan ini, banyak investor mengambil posisi bertahan dengan saham pecundangnya.

Hal sebaliknya terjadi pada saham-saham untung. Ada efek kebanggaan dan kemenangan dalam diri investor karena telah mengambil keputusan yang tepat dalam memilih saham. Karenanya, tanpa menunggu lama, investor ritel pada umumnya akan segera merealisasikan keuntungannya.

Implikasi dari bias ini adalah, investor ritel mengalami banyak keuntungan kecil (many small gains) dan tidak ada keuntungan besar di satu sisi. Di sisi lain, ada kemungkinan investor mengalami kerugian besar (large loss) disamping kerugian kecil.

Tip dari saya, let the profits run, not the losses. Biarkan keuntungan, dan bukannya kerugian, terus mengalir. Ini tentunya berlaku untuk kondisi normal.

Saat ini kondisi bursa saham kita nyatanya sedang dalam tekanan berat. Karenanya, jangan terlalu bersedih juga jika portofolio Anda berisi pepesan kosong. (hjtp)

 

Sumber: Koran Kontan. Edisi: Senin, 12 Oktober 2020. Rubrik Bursa – Wake Up Call. Halaman 3.