J Soedradjad Djiwandono: Digital Silk Road, A Potent PRC Weapon

J Soedradjad Djiwandono: Jalur Sutra Digital, Senjata Ampuh RRC

Oleh: J Soedradjad Djiwandono

Guru Besar Emeritus Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia

Dalam persaingan negara adidaya yang semakin intensif antara AS dan Republik Rakyat Tiongkok, tampaknya ada perkembangan yang lebih halus yang belum banyak terlihat hingga baru-baru ini. Hal ini berkaitan dengan apa yang oleh beberapa orang disebut sebagai “jalur sutra baru digital”. Walaupun berbeda, konsep ini sebenarnya merupakan bagian dari New Silk Road atau Belt and Road Initiative (BRI) yang belakangan ini intens didiskusikan.

Memang ada perkembangan baru dalam teknologi informasi dan komunikasi atau TIK, yang diperkenalkan oleh China baru-baru ini, yaitu jaringan layanan blockchain atau BSN. Saya ingin membahas tentang BSN dan signifikansinya dalam persaingan yang sedang berlangsung antara dua kekuatan super.

Teknologi baru menghubungkan platform blockchain

 Pembahasan persaingan antara AS dan China selalu menggelitik, termasuk Ketika membahas mana yang lebih unggul dalam perkembangan teknologi, sebuah fenomena yang tentunya akan mempengaruhi masa depan kehidupan kita semua. Kita telah menyaksikan perdebatan sengit – bahkan pertengkaran – tentang Huawei, produksi chip, dan isu lainnya. Isu terbaru adalah mengenai pemilik Byte Dance dari aplikasi Tik-Tok, yang telah ditekan oleh pemerintah AS agar diambil alih oleh Microsoft.

Tetapi ada tema yang lebih halus, yaitu, keputusan China untuk membangun sistem teknologi blockchain yang saling berhubungan di seluruh lembaga pemerintah, termasuk pemerintah daerah, bisnis di seluruh China, dan perusahaan China di luar negeri, yang disebut Blockchain Service Network (BSN).

Saya tidak akan berpura-pura memahami hal ini secara detil. Pemahaman saya hanya berasal dari makalah yang ditulis oleh Tatiana Koffman, yang berjudul “Skakmat Tiongkok: Senjata Teknologi yang Tidak Anda Sadari” di Forbes, 20 Agustus 2020.

Teknologi Blockchain dapat diumpamakan sebagai sebuah jurnal – seperti pembukuan dalam sistem akuntansi pengarsipan catatan – dari suatu aset digital secara detil (sumbernya), yang didistribusikan ke jaringan komputer, alih-alih terpusat di satu lokasi. Mata uang kripto seperti Bitcoin dibuat menggunakan teknologi blockchain, diindeks dengan algoritme canggih dalam bahasa komputer yang dapat dibaca oleh orang lain yang tahu cara menguraikannya; dengan demikian, dpergunakanlah istilah “terdistribusi” atau “desentralisasi”. Istilah “blockchain”, ditulis dalam huruf kecil, adalah istilah umum untuk teknologi yang dipergunakan dalam membuat mata uang kripto, dan mencakup seluruh mata uang digital lainnya, seperti Ethereum, Dash, dan ratusan lainnya.

Teknologi ini mengilhami mata uang digital dengan fitur-fitur unggulan, dibandingkan dengan mata uang lawas yang dikeluarkan oleh lembaga terpusat, seperti bank sentral atau perbendaharaan nasional. Teknologi ini diklaim lebih unggul karena karakteristiknya: transparan dan aman, dengan sedikit risiko untuk diretas. Tidak ada masalah pemalsuan dalam mata uang digital, karena setiap orang dapat membaca apa yang dicatat dalam jurnal yang didistribusikan, sehingga dalam transaksi Bitcoin, pembeli dapat memeriksa alur mata uang, termasuk perpindahan Bitcoin yang ia beli dari dompet penjual ke dompetnya sendiri. Teknologi ini memberi solusi bagi apa yang disebut sebagai “double spending” (pengeluaran ganda) dalam perdagangan. Anda bahkan tidak lagi memerlukan konvensi dalam perdagangan caveat emptor, bahwa pembeli menanggung risiko kualitas barang yang dibelinya, karena kedua belah pihak memiliki informasi yang sama tentang barang yang diperdagangkan sejak awal.

Teknologi blockchain sangatlah kuat: semua mata uang digital dan pembayaran digital yang dibuat menggunakan teknologi ini telah dipandang sebagai pesaing kuat mata uang tradisional dan sistem pembayaran lama. Ini, saya kira, menjadi dasar dari argumen Tatiana Koffman bahwa “BSN akan menjadi infrastruktur tulang punggung interkoneksi melalui daratan China, pemerintah kota, bisnis swasta, dan individu, baik di China maupun di luar negeri. Jaringan ini akan membentuk Jalur Sutra Digital baru untuk menghubungkan China dengan mitra dagangnya secara global ”.

Mata uang digital terdesentralisasi, seperti Bitcoin, Ethereum, Dash, serta pembayaran digital seperti PayPal, Alipay, GoPay, Amazon pay, dan banyak lainnya telah berkembang pesat. Selain itu, PBOC lain telah melakukan uji coba mata uang bank sentral digital untuk menggantikan versi saat ini, Renminbi digital atau eRMB. Apa yang dimaksud dengan eRMB telah mulai dibahas secara luas, termasuk bagaimana pengaruhnya terhadap mata uang dan alat pembayaran tradisional, serta sistem pertukaran.

Diskusi mengenai perkembangan hubungan antara AS dan China, telah banyak didiskusikan. Isu tersebut juga menjadi fokus saya dalam tulisn ini, yaitu mengenai pengenalan eRMB sebagai Mata Uang Digital Bank Sentral (CBDC). ERMB telah diujicobakan di beberapa kota di China (lihat kolom saya “Digital Renminbi and the US-China Competition”, Independent Observer, 5-11 Juni 2020). Dalam hal potensi keunggulan kompetitif, banyak yang memperkirakan bahwa eRMB akan berhasil menggantikan protokol dan pertukaran pembayaran global saat ini, yang secara historis didominasi oleh dolar AS. Menurut saya, masih banyak waktu yang dibutuhkan bagi eRMB untuk menggantikan USD. Hal ini terlihat dari posisi USD yang sangat kuat dalam perdagangan komoditas dan kepemilikan cadangan secara global.

Namun, peluncuran BSN oleh China mungkin saja memberikan hasil yang berbeda. Strategi ini dapat menjadi cara yang lebih ampuh untuk memberikan pengaruh yang kuat secara global dan berpotensi mengambil alih posisi AS dalam persaingan AS-China.

Cara mudah untuk memahami cara kerja BSN adalah dengan membayangkan saat kita menggunakan internet dan mendapatkan manfaat yang luar biasa dari World Wide Web (WWW), atau yang sering kali dikenal sebagai Web. Menurut Wikipedia, web adalah sistem informasi dimana dokumen dan sumber daya web lainnya diidentifikasi oleh Uniform Resource Locators (URL), yang dapat dihubungkan oleh hypertext dan dapat diakses melalui Internet. Dalam kasus BSN, pengguna platform blockchain mana pun dapat mengakses pengguna lain yang serupa; dengan demikian, mereka saling berhubungan. Web telah membuat hidup kita jauh lebih mudah karena kita semua menggunakannya.

Sekarang, kita bisa membayangkan bahwa mereka yang ahli dalam mengoperasikan platform aplikasi apa pun, seperti penambang dalam melakukan transaksi Bitcoin misalnya, dapat berkomunikasi secara digital dengan orang lain. Dengan demikian, argumen yang dikutip di atas, menyatakan bahwa ini adalah jalan sutra digital yang akan dapat menghubungkan institusi di seluruh China dan kemudian institusi lainnya secara global.

Keuntungan bagi China

Menurut saya, dalam kaitannya dengan hubungan AS-China dan persaingan antara dua negara adidaya atau antara yang maju dan emerging economy, saya harus mengatakan bahwa peluncuran BSN dapat menjadi titik balik bagi emerging economy untuk mengambil kepemimpinan. Jika Tatiana Koffman menggunakan analogi catur, saya akan menggunakan permainan tenis untuk menggambarkan bagaimana saya memandang perkembangan BSN. Saya setuju dengan gagasan ini, tetapi tidak akan berakhir dengan skakmat, peristiwa yang menyiratkan kekalahan. Saya piker, ini adalah deuce dalam permainan tenis; dan sebagai wasit, saya menyerahkan sesi permainan kepada China. Permainan memang belum berakhir, tetapi yang pasti, situasi yang ada saat ini berpihak pada China.

Hubungan antara kedua negara adidaya ini telah mengalami pasang surut sejak pulihnya hubungan politik pasca kunjungan Presiden Nixon ke RRC pada 1972. Pemerintahan Trump yang menyuarakan kebijakan “utamakan Amerika” secara dramatis mengubah strategi para pendahulunya; ditandai dengan strategi yang seringkali sulit untuk ditafsirkan. Ada banyak isu yang terjadi, mulai dari perang dagang, perang mata uang, dan akhir-akhir ini perang teknologi. Selain itu, ada upaya untuk mengarahkan tanggung jawab asal mula terjadinya pandemi Covid-19 kepada China (lihat Op-ed saya yang berjudul “Digital Renminbi” – dirujuk di atas).

Dalam hal kompetisi dan persaingan – berbeda dengan kerja sama – perdagangan dan perang mata uang terlihat sangat mirip dengan kasus klasik “perangkap Thucydides”, seperti yang dijelaskan oleh Prof. Graham Allison dalam bukunya Destined for War. Namun, saya berpendapat dalam tulisan saya sebelumnya, bahwa persaingan dan ketegangan ini mungkin tidak akan berubah menjadi perang tembak-menembak. Saya melihat peningkatan ketegangan lebih sebagai bagian dari politik pemilihan presiden AS yang akan menghasilkan kebijakan luar negeri baru, setelah presiden baru terpilih pada bulan November. Saya berpendapat bahwa jika mantan Wakil Presiden Joe Biden memenangkan pemilu, kemungkinan besar, ia akan memulai langkah rekonsiliasi, sejalan dengan pemerintahan Obama, dimana ia sebelumnya bertugas. Tetapi bahkan jika Presiden Trump dianugerahi masa jabatan kedua, ia kemungkinan besar akan berupaya untuk meredakan ketegangan saat ini.

Dalam hal potensi jebakan Thucydides, saya melihat bahwa baru-baru ini, muncul komplikasi, karena posisi Eropa dalam persaingan antara dua negara adidaya bergerak ke arah baru: Jerman tampaknya mengubah kebijakannya, menjauhkan diri dari China dengan alasan bahwa pelanggaran hak asasi manusia – perlakuan terhadap Muslim di Uighur – dan hukum keamanan Hong Kong akan mempengaruhi hubungan bilateral. Jerman bergabung kembali dengan Perancis dan negara lainnya dalam mengambil kebijakan yang kemungkinan melarang Huawei dalam pengembangan 5G.

Perkembangan di atas membuat saya berpikir bahwa peluncuran BSN telah memberikan kesempatan bagi China untuk melompati AS. BRI, yang belum dapat dikatakan sukses dalam pengimplementasiannya, tampak dikompensasi dengan peluncuran Renminbi digital dan yang terbaru, BSN. Dalam bahasa jebakan Thucydides, ada dugaan bahwa AS, sebagai negara adidaya yang stabil, merasa terancam oleh apa yang telah dicapai China di bidang ekonomi, infrastruktur fisik, keuangan, dan kemajuan teknologi.

Sementara itu, bagi negara yang mengalami “konflik”, termasuk Indonesia, tantangan dan kemungkinan untuk memanfaatkan peluang, tetap terbuka. Namun kita harus tetap waspada, siap menghadapi dampak buruk dari ketegangan dan kompetisi, sembari menyambut peluang apa pun yang mereka hadirkan. (hjtp)

Sumber: Independent Observer. Edisi: Jumat, 2-8 Oktober 2020. Rubrik Opini. Halaman 7.
(am)

Leave a Reply