Ari Kuncoro: Menelaah Resesi

0

Ari Kuncoro: Menelaah Resesi

 

Nino Eka Putra ~ Humas FEB UI

DEPOK – Selasa (29/9/2020), Profesor Ari Kuncoro, Rektor Universitas Indonesia, merilis tulisannya yang dimuatĀ Harian Kompas,Ā rubrik Analisis Ekonomi, berjudul ā€œMenelaah Resesiā€. Berikut tulisannya.

ā€œMenelaah Resesiā€

Prediksi pertumbuhan ekonomi pemerintah pada triwulan III-2020 telah menggeser batas bawah dari minus 2,1 persen menjadi minus 2,9 persen. Tanpa pergeseran ini, secara teknis per definisi, Indonesia sudah memasuki resesi dengan pertumbuhan negatif dua triwulan berturut-turut.

Beberapa negara menerapkan karantina wilayah dengan tingkat keketatan tinggi, dengan harapan memperoleh pemulihan cepat ala huruf V. Kenyataannya, setelah pertumbuhan ekonomi negatif pada triwulan I-2020, kontraksi justru lebih dalam triwulan II-2020.

Sebagai ilustrasi, Uni Eropa (UE) mengalami resesi pada triwulan I-2020. Pertumbuhan ekonomi makin buruk dari minus 3,2 persen ke minus 11,7 persen pada riwulan berikutnya. Pemulihan cepat pola V yang akan terjadi setelah karantina wilayah tidak menjadi kenyataan.

Ada kemungkinan, dengan merebaknya gelombang kedua Covid-19 di UE dan Amerika Serikat (AS) saat ini dan kemungkinan karantina wilayah kedua di UE, pola resesi akan berbentuk U atau bahkan L. Penyebabnya, faktor mobilitas penduduk yang praktis terhenti akibat pandemi. Mobilitas inilah yang menghidupi sektor jasa, termasuk bisnis kecil yang menjadi andalan pertumbuhan.

Hanya ada satu negara, yaitu China, yang mempunyai pola pemulihan V dalam waktu satu triwulan sehingga terhindar dari definisi resesi. Setelah terkontraksi 6,2 persen pada triwulan II, China tumbuh positif pada triwulan berikutnya. Hal ini bukan suatu kebetulan. Setelah karantina wilayah dicabut, China memberikan berbagai stimulus. Salah satunya, berupa subsidi setara 1.400 dollar AS untuk warganya yang membeli mobil. Industri otomatif China mempunyai kandungan impor yang kecil karena rantai pasok suku cadangnya ada di dalam negeri. Daya ungkitnya juga besar karena diperkirakan 40 juta orang bekerja di rantai pasok industri otomotif. Hal ini menjelaskan Purchasing Manager Index (PMI) China pulih lebih cepat dibandingkan dengan negara-negara lain. PMI adalah indeks yang menunjukkan ekspansi industri (di atas 50).

Pola baruĀ 

Walaupun data produk domestik bruto triwulan III belum dikeluarkan Badan Pusat Statistik, prediksi pemerintah memastikan Indonesia memasuki resesi. Ada perbedaan dengan UE, AS, dan China. UE dan AS selama dua triwulan berturut-turut mengalami kontraksi semakin dalam. China pulih kembali ke pertumbuhan positif dalam satu triwulan. Indonesia, menurut prediksi pemerintah, sudah memasuki resesi, tetapi dapat menghindari kontraksi yang lebih dalam pada triwulan III.

Ada beberapa faktor utama di balik pola ini. Pertama, ekspektasi konsumen yang diwakili Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK). IKK mencapai titik terendah 77,8 pada Mei. Seiring relaksasi pembatasan sosial berskala besar, IKK membaik menjadi 86,9 pada Agustus. Namun, perbaikan ini berjalan agak landai dengan kenaikan antara Mei dan Agustus sebesar 11,7 persen atau 3,74 persen per bulan. Hal ini disebabkan ekspektasi terhadap penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, dan kegiatan usaha ke depan, walaupun masih dalam rentang cukup optimistis, tidak sebaik pada bulan sebelumnya.

Kedua, indeks pembelian barang tahan lama membaik tipis, dari 66 pada Juni berturut-turut menjadi 68,5 dan 71,8 pada Juli dan Agustus. Hal ini berdampak pada kenaikan signifikan indeks PMI Indonesia ke zona ekspansi, dari 46,9 pada Juli ke 50,8 pada Agustus. Hal ini merupakan berita baik bagi industri manufaktur.

Ada satu pelajaran dari krisis 1998, yakni sektor perdagangan, akomodasi, dan restoran pulih lebih cepat dibandingkan dengan manufaktur dan mempunyai daya ungkit besar. Konsekuensinya, karena sektor perdagangan, hotel, restoran, dan pariwisata masih stagnan, geliat hanya mampu mengurangi kontraksi ekonomi, tetapi tidak cukup kuat mendorong pertumbuhan ke zona positif. Kali ini pola konsumsi masyarakat berbeda akibat pandemi. Berbelanja barang-barang tahan lama, seperti perlengkapan rumah tangga dan gawai, lebih didahulukan ketimbang perjalanan wisata dan makan di luar rumah. Sebagai gantinya, untuk relaksasi dan rekreasi, masyarakat bepergian jarak pendek, bersepeda, dan lari pagi pada akhir pekan.

Survei IKK Bank Indonesia terakhir menunjukkan kelompok berpendapatan Rp5 juta ke atas dan berpendidikan sarjana cenderung berekspektasi lebih pesimistis dibandingkan dengan kelompok lain. Hal ini memengaruhi pola konsumsi. Walaupun berhemat adalah sesuatu yang lumrah di tengah situasi penuh ketidakpastian, terlalu berlebihan akan menghambat pemulihan sesuai konsep paradox of thrift. Pendapatan yang terkunci di kelas menengah di kota-kota besar di Indonesia terlihat dari laju peningkatan simpanan di perbankan. Per Juli 2020, simpanan di bank naik Rp 313 triliun sejak akhir 2019 atau tumbuh 6,12 persen. Sementara pada Juli 2019, simpanan naik Rp197 triliun atau tumbuh hanya 3,45 persen dibandingkan dengan akhir 2018. Persepsi kesehatan tampaknya sangat memengaruhi pola konsumsi masyarakat, terutama golongan berpendapatan menengah atas.

Untuk memecah kebuntuan ini, Kementerian Perhubungan telah mencoba mencari solusi dengan studi mencari transportasi yang aman dan sehat bekerja sama dengan beberapa universitas terkemuka di dalam negeri. Namun, usaha ini tidak akan cukup tanpa dibarengi sosialisasi yang lebih luas dan penegakan disiplin yang lebih tegas dari konsep 3M, yakni memakai masker, menjaga jarak aman, dan mencuci tangan. Kebiasaan ini mungkin harus tetap diterapkan, bahkan seandainya vaksinasi massal sudah dilakukan.

Secara keseluruhan, jika persepsi kesehatan dan perilaku konsumsi tetap seperti sekarang, mungkin akan terjadi pola pemulihan yang bukan V atau U. Namun, mirip tanda ā€contrengā€ atau simbol operasi matematika mengambil akar suatu bilangan dengan ekor naik memanjang dengan kemiringan (slope) landai. Perbaikan pertumbuhan pada triwulan IV-2020 tetap akan terjadi, tetapi mungkin hanya akan menuju zona yang tidak terlalu negatif. Penyerapan dana pemulihan ekonomi nasional yang lebih besar juga turut menentukan, apakah pertumbuhan nol atau bahkan positif dapat tercapai. (hjtp)

 

Sumber: Harian Kompas. Edisi: Selasa, 29 September 2020. Rubrik Analisis Ekonomi. Halaman 1 bersambung ke Halaman 15.