Webinar Expert Series “South East Asia Economy Riding the New Normal: What Research Show”

0

Webinar Expert Series “South East Asia Economy Riding the New Normal: What Research Show”

 

Hana Fajria – Humas FEB UI

Depok – (18/9/20) Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, bekerja sama dengan Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) dan Elsevier, mengadakan webinar expert series yang berjudul  “Southeast Asia Economy Riding the New Normal: What Research Show”. Dengan lebih dari 500 peserta dari kawasan Asia-Pasifik, diskusi ini membahas bagaimana kita harus menindaklanjuti keadaan sebagai daerah terdampak Covid 19.   Memasuki kondisi normal baru yang berdampak pada berbagai sektor di dunia, termasuk kondisi ekonomi di Asia Tenggara, para peserta berdiskusi dengan ahli di bidang ekonomi, berbagi wawasan, bidang tantangan dan peluang untuk setiap negara, serta bagaimana para akademisi dan pekerja profesional harus bekerja sama dalam membuka jalan untuk mendorong pemulihan ekonomi.

Omar Malik, Regional Director Elsevier Southeast Asia, dalam sambutan pembukaan memberikan apresiasinya kepada partisipan yang sudah bergabung, dan berharap acara ini memberikan manfaat dan menambah wawasan. Dua pembicara yang tampil dalam diskusi adalah ini, Dr. Lili Yan Ing, Lead Advisor (Southeast Asia region) at the Economic Research Institute for ASEAN and East Asia dan Vid Adrison, Ph.D., Head of Economics Department, Faculty of Economics and Business Universitas Indonesia, dengan  Johan Jang, Consumer Consultant for Elsevier Asia sebagai moderator.

Dr. Lili Yan Ing dalam presentasinya menjelaskan dalam mengelola strategi Covid 19 ASEAN, baik nasional maupun regional, ekonomi makro ASEAN yang stabil didukung oleh defisit anggaran yang rendah dan hutang publik yang wajar dibutuhkan agar memberi ruang untuk stimulus. Pertama, stimulus fiskal dengan perawatan kesehatan, jaring pengaman sosial, insentif pajak dan program pemulihan ekonomi. Kedua stimulus moneter dengan menurunkan suku bunga, menurunkan persyaratan cadangan bagi bank, melonggarkan likuiditas, membeli kembali obligasi pemerintah secara langsung sambil menanggung biaya penuh.

“Pada level nasional, prioritas yang didahulukan ialah kesehatan dan pendidikan, serta strategi perdagangan maupun investasi. Pada tingkat regional perlu kerjasama ASEAN yang nyata dan solid, bukan hanya komitmen, dengan tetap mengutamakan kesehatan dan memastikan ketersediaan suplemen kesehatan dengan harga terjangkau, memastikan ketersediaan pasokan pangan pokok di ASEAN, merampingkan prosedur ekspor-impor dan investasi, dan menerapkan sistem perizinan otomatis serta meningkatkan kapasitas dalam kegiatan berbasis digital”, ujar Lili Yan.

Vid Adrison memaparkan mengenai dampak Covid 19 terhadap perlambatan ekonomi dari perspektif mikro, yang menurutnya mengalami gagal prediksi. Menurut Vid, memahami sifat krisis dan bagaimana agen ekonomi berperilaku berguna dalam mengidentifikasi kebijakan yang tepat.

“Krisis saat ini berbeda dari krisis sebelumnya, risiko tinggi tertular Covid 19 mengurangi aktivitas, berdampak negatif pada perekonomian. Kebijakan yang salah dapat mengakibatkan banyak nyawa hilang dan kinerja ekonomi yang buruk. Menghentikan wabah covid adalah keharusan untuk memulihkan ekonomi. Saving lives is saving the economy”, tutup Vid. (hjtp)