Pembatasan Sosial Tidak Efektif Tanpa Kesadaran Masyarakat

Pembatasan Sosial Tidak Efektif Tanpa Kesadaran Masyarakat

 

Hana Fajria – Humas FEB UI

JAKARTA- KOMPAS (27 Juli 2020) Media daring Kompas mengutip Kepala Lembaga Demografi  FEB UI, Turro S. Wongkaren, mengenai kemungkinan kembali diperketatnya PSBB. Menurutnya, hal itu tidak akan efektif jika tidak ada perubahan perilaku penduduk di daerah yang bersangkutan. Perilaku ini berhubungan dengan agama, budaya, dan lainnya. Semata membuat peraturan berdasarkan teknis kesehatan, ekonomi atau politik tidak cukup. Yang kita perlukan adalah pendekatan sosial budaya, agar mengerti bagaimana perilaku dapat berubah, karena kalau diperketat kemudian dilonggarkan, kejadian sekarang akan kembali berulang, yaitu banyak orang kurang memperhatikan protokol kesehatan. “Untuk mengubah perilaku masyarakat, selain membuat mekanisme yang dapat mengarah pada perilaku diinginkan,  diperlukan juga peran para tokoh agama, tokoh budaya dan sosial lainnya,” demikian kata Turro.

Pergerakan manusia di DKI Jakarta didominasi oleh para pekerja, mengingat pusat administrasi dan bisnis masih berada di Ibu Kota,, sehingga para pelaju semuanya menuju ke sana. Pelaksanaan pembatasan sosial berskala besar untuk menyempitkan gerakan pelaju dinilai tidak akan efektif, selama kesadaran masyarakat akan protokol keselamatan pada masa pandemi Covid-19 masih rendah.

”Dari segi peta pergerakan manusia belum banyak perubahan dengan data tahun 2014 dan tahun 2017. Sebanyak 81 persen orang yang bergerak di Jakarta adalah pekerja,” kata Kepala Lembaga Demografi Universitas Indonesia, Turro Wongkaren, ketika dihubungi dari Jakarta pada hari Senin (27/7/2020). Sisanya adalah orang-orang yang melakukan aktivitas lain, seperti berbelanja, sekolah, kursus, dan mengunjungi kerabat.

Mayoritas pelaju berasal dari kota Depok. Jumlah kedua terbanyak ialah dari Bekasi, Bogor, dan Tangerang Selatan. Adapun dari aspek wilayah tujuan, pelaju paling banyak menuju ke Jakarta Selatan. Gedung-gedung bisnis mayoritas berada di sini, misalnya di daerah Senayan, Sudirman, dan Kebayoran Lama. Setelah itu baru menuju ke Jakarta Pusat dan Jakarta Timur.

Pergerakan manusia dinilai oleh para pakar kesehatan sebagai penyebab bertambahnya jumlah kasus positif Covid-19. Pekan lalu, ditemukan kasus positif di wilayah perkantoran. Pada hari Senin ini, Wakil Direktur Bidang Komunikasi, Perusahaan TelkomGroup, Arif Prabowo, membenarkan bahwa salah satu karyawannya positif Covid-19. Oleh sebab itu, kawasan perkantoran TelkomHub di Jalan Gatot Subroto ditutup sementara guna dilakukan sterilisasi.

Data Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyebutkan, total sudah ada 19.474 kasus positif. Sebanyak 11.997 orang sembuh dan 782 orang meninggal. Di luar jumlah itu, ada 2.226 orang suspek dan 276 orang terduga Covid-19 yang meninggal.

Pola penemuan kasus masih sama, yaitu 55 persen ditemukan pada orang yang tidak memiliki gejala demam, batuk, pilek, maupun sesak napas. Dinas Kesehatan Jakarta menyatakan cara mencegah penularan hanya dengan memakai masker, menjaga jarak fisik, dan mencuci tangan dengan memakai sabun.

Kesadaran

Turro menjelaskan, melihat pola pergerakan masyarakat yang kian meningkat karena laju kebutuhan ekonomi, tidak akan efektif bagi pemerintah untuk melakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Alasan pertama ialah karena berisiko menimbulkan gejolak di masyarakat. Kedua ialah karantina tidak efektif jika kesadaran masyarakat mengenai korona tidak ada atau tidak meningkat.

Jika PSBB diberlakukan kembali tanpa peningkatan kesadaran, yang akan terjadi setelah PSBB selesai ialah euforia masyarakat untuk keluar rumah pada saat yang sama, sehingga mengakibatkan keramaian mendadak. Sejauh ini, juga belum tampak pengoptimalan kearifan lokal sebagai sarana peningkatan kesadaran masyarakat. Sosialisasi yang dilakukan masih sangat teknis dengan menggunakan istilah-istilah kesehatan, politik, dan ekonomi yang tidak sepenuhnya dimengerti orang awam.

”Sejauh ini, kami melihat pemikiran masyarakat adalah ’saya merasa sehat, pasti tidak akan tertular’ atau ’tetangga saya sering keluar rumah dan baik-baik saja, kok’. Pemikiran bahwa virus adalah sesuatu yang berbahaya dan harus dihindari dengan cara melakukan protokol keamanan belum mengarus utama. Tokoh agama, misalnya, belum rutin mengingatkan jemaahnya setiap ada kegiatan ibadah untuk selalu bermasker dan menjaga jarak di kehidupan sehari-hari,” papar Turro.

Ketika dihubungi pada waktu yang berbeda, Ketua Komunitas Betawi Kita, Roni Adi, mengatakan, pihaknya sudah mengampanyekan berbagai aspek budaya tradisional Betawi untuk mencegah penularan Covid-19. Salah satunya ialah dengan lomba pantun yang bertema bahaya virus korona baru, selalu bermasker, dan rajin mencuci tangan.

Ia mengungkapkan, beberapa bulan lalu Komunitas Betawi Kita mengadakan diskusi mengenai sejarah pandemi di Batavia. Tercatat bahwa sejak abad ke-18 hingga sekarang ternyata belum banyak perubahan perilaku mulai dari kebiasaan membuang sampah sembarangan hingga pola hidup sehat. Padahal, ada berbagai prinsip hidup Betawi yang sangat mendukung hidup yang baik.

Contohnya ialah tradisi Sedekah Bumi, Sedekah Laut, dan Bersih Kampung. ”Bersih Kampung juga bisa diartikan agar lingkungan sekitar bebas dari penyakit. Selain dengan cara dibersihkan secara fisik, penyakit juga wajib dihindari. Dalam konteks Covid-19, tentu dengan cara menerapkan protokol kesehatan dan keselamatan,” tuturnya.

”Bersih Kampung juga bisa diartikan agar lingkungan sekitar bebas dari penyakit. Selain dengan cara dibersihkan secara fisik, penyakit juga wajib dihindari. Dalam konteks Covid-19 tentu dengan cara menerapkan protokol kesehatan dan keselamatan,” kata Roni.

Roni memaparkan, masyarakat Betawi sangat menjunjung kehormatan diri dan keluarga. Prinsip ini bisa digunakan agar masyarakat disiplin bermasker dan menjaga jarak. Sanksi sosial dan administrasi bagi pelanggar protokol keamanan semestinya ditanggapi selayaknya sebuah hal yang memalukan individu tersebut dan keluarganya.

”Budaya Betawi menekankan ikhtiar. Saat ini, ikhtiar selain ikhlas dilakukan juga dengan memastikan kita tidak merugikan orang lain dengan menjadi penebar virus,” ujarnya.

Sumber :

https://bebas.kompas.id/baca/metro/2020/07/27/pembatasan-sosial-tidak-efektif-tanpa-kesadaran-masyarakat/

Leave a Reply