Sri Mulyani dan Vid Adrison: Kondisi Ekonomi Terkini Indonesia dan Proyeksi Akhir 2020

0

Sri Mulyani dan Vid Adrison: Kondisi Ekonomi Terkini Indonesia dan Proyeksi Akhir 2020

 

Hana Fajria – Humas FEB UI

Jakarta – (29/06/2020)  Tim Komunikasi Publik, Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan Covid-19, melaksanakan konferensi pers dari kantor Graha BNBP, yang disiarkan live melalui TV Pool dan Radio Pool, menghadirkan Sri Mulyani Indrawati Menteri Keuangan, dan Vid Adrison,  Ketua Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI, dipandu  oleh Rizky Ika Syafitri.

Pertumbuhan ekonomi sejumlah negara maju terancam kontraksi. Kondisi perekonomian Indonesia, layaknya negara-negara lain, mengalami tekanan yang luar biasa sebagai dampak dari pandemi Covid-19. Menteri Keuangan menilai ekonomi Indonesia secara menyeluruh masih lebih baik dibandingkan negara lain. Walaupun pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2020 diprediksi minus 3,8%.

“Estimasi di Amerika negatif mendekati 10%, Inggris minus 15%, Jerman kontraksi 11%, Perancis minusnya bahkan sampai 17%, Jepang 8%. Bahkan, India yang selama ini dianggap pertumbuhannya tinggi, kontraksi bisa mencapai 12%,” papar Sri Mulyani.

“Ini yang menjadi tantangan bagi kita semua, bahwa Indonesia akan terpengaruh. Kita melakukan berbagai langkah pencegahan Covid-19, yang kemudian memengaruhi ekonomi di kuartal II 2020. Estimasi kami (pertumbuhan ekonomi) minus 3,8%. Bayangkan dengan negara maju tadi,” imbuhnya.

Sri Mulyani menyebut prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 3,8% pada kuartal II 2020, mengacu kalkulasi sejumlah indikator. Namun, realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal II 2020 baru bisa terlihat setelah periode itu usai. “Tentu kita akan melihat pada saat BPS (Badan Pusat Statistik) menyampaikan angka kuartal II 2020 di Agustus mendatang,” jelas Sri Mulyani.

Sri Mulyani selanjutnya menjelaskan, bahwa sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan sektor informal, yang merupakan bantalan perekonomian Indonesia, merasakan dampak dari pandemi karena interaksi fisik yang dibatasi. Dalam mengestimasi dampak pandemi terhadap perekonomian Indonesia, terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan, yakni konsumsi masyarakat yang terganggu, investasi yang terhambat, dan ekspor-impor yang terkontraksi.

“Respon pemerintah terhadap kejadian COVID-19 ini yang utamanya adalah, pertama masalah kesehatan, yang kemudian menular menjadi masalah sosial, masalah ekonomi, dan (masalah) keuangan,” ujarnya mengenai dampak anggaran biaya penanganan COVID-19 terhadap perekonomian Indonesia.

Terakhir, Sri Mulyani berpesan agar masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan selagi melakukan aktivitas fisik, supaya Indonesia dapat kembali pulih tidak hanya secara kesehatan, tapi juga perekonomian. “Kalau rakyat Indonesia ingin tetap produktif, masih melakukan kegiatan dan terus untuk kesehatan maupun ekonomi, maka InsyaAllah kita akan bisa melakukannya bersama-sama,” tutup Sri Mulyani.

Kepala Departemen Ilmu Ekonomi FEB, Universitas Indonesia, Vid Adrison, menuturkan pertumbuhan ekonomi nasional tergolong baik secara keseluruhan. Akan tetapi sulit diprediksi saat pandemi Covid-19 melanda, tidak dapat dipastikan kesiapan Indonesia dalam bidang perekonomian untuk menghadapi kuartal tiga dan kuartal empat masa pandemi ini.

Agar roda perekonomian kembali berputar seperti yang diharapkan, Vid menyebutkan setidaknya tiga hal utama yang harus diperhatikan.  “Pertama, seberapa lama Covid-19 akan menyebar terus, kapan kita bisa menghentikan. Kedua, seberapa banyak porsi masyarakat yang income-nya bergantung aktivitas fisik. Ketiga, efektivitas dari kebijakan pemerintah,” urai Vid.

“Ada beberapa yang bisa pindah dari offline menjadi online. Tapi tetap, sebagian masih membutuhkan kehadiran fisik. Bagi masyarakat yang aktivitasnya sangat tergantung dari kehadiran fisik, maka sangat penting untuk mematuhi protokol kesehatan,” jelasnya mengenai adaptasi yang harus dilakukan oleh para pelaku ekonomi di masa pandemi ini.

Vid Adrison menyampaikan bahwa mematuhi protokol kesehatan merupakan salah satu syarat agar para pelaku ekonomi dapat tetap menjalankan roda perekonomian Indonesia. “Terapkan protokol kesehatan sehingga akhirnya kita bisa mempercepat pemutusan rantai penyebaran Covid-19,” ujarnya. (hjtp)