Ari Kuncoro: Kenormalan Baru sebagai Jangkar Ekspektasi Positif

Ari Kuncoro: Kenormalan Baru sebagai Jangkar Ekspektasi Positif

 

Nino Eka Putra ~ Humas FEB UI

DEPOK – Selasa (9/6/2020), Ari Kuncoro, Rektor Universitas Indonesia, merilis tulisannya yang dimuat di Harian Kompas, rubrik Opini, yang berjudul “Kenormalan Baru sebagai Jangkar Ekspektasi Positif”. Berikut tulisannya.

“Kenormalan Baru sebagai Jangkar Ekspektasi Positif”

Dalam ilmu pengambilan keputusan dikenal apa yang disebut sebagai optimasi dinamis, dengan multikendala yang berubah antarwaktu.

Tujuannya adalah untuk mereplikasi situasi yang dihadapi suatu entitas yang berwawasan ke depan, multiaspek serta multidimensional dalam mengambil keputusan dengan memperhitungkan kendala dan ketidakpastian (stochastic dynamic optimization). Secara teknis karena keputusan akan bersifat melihat ke depan (forward looking) diperlukan kondisi terminal untuk menjamin bahwa secara matematis optimasi tersebut mempunyai solusi yang dapat dianalisis.

Hasil dari optimasi tersebut adalah suatu peta jalan waktu (time path) yang menggambarkan bahwa setiap aksi kebijakan akan bergantung pada situasi dan kondisi lingkungan. Peta jalan waktu ini tidak menetapkan jadwal yang spesifik untuk melakukan aksi, tetapi hanya merupakan ancang-ancang yang memberi tanda bahwa akan ada cahaya di ujung goa. Situasi itulah yang dihadapi Indonesia dan dunia yang sedang menangani Covid-19. Setelah memusatkan diri dengan usaha pencegahan penularan, rancangan kebijakan bergerak ke arah usaha-usaha yang lebih multidimensional, menyelamatkan nyawa sekaligus meminimalkan resesi.

Jangkar ekspektasi positif

Sejak awal, pemerintah telah berusaha tetap menjaga agar kegiatan perekonomian tidak terlalu anjlok secara drastis. Fase pertama adalah penyelamatan nyawa manusia dan tenaga medis. Yang kemudian disusul oleh fase kedua berupa perlindungan sosial kelompok sosial dan rentan, perlindungan kepada kelompok menengah bawah korban pemutusan hubungan kerja (PHK).

Fase ketiga adalah memperkuat habitat perekonomian agar wabah Covid-19 tak menjelma menjadi krisis ekonomi dan keuangan melalui program fokus sektor-sektor terdampak, perlindungan UMKM, relaksasi kredit perbankan, serta relaksasi fiskal untuk membiayai stimulus perekonomian. Walaupun demikian, berapa pun stimulus yang digelontorkan akan tergantung apakah terjadi interaksi antara daya beli dan promosi, baik secara tradisional maupun secara virtual melalui daring. Untuk itu, diperlukan perubahan ekspektasi dari negatif ke positif.

Dalam hal ini, tim peneliti dari dua universitas di AS, Yale dan Carnegi Mellon, melakukan percobaan yang diikuti oleh 2.480 sukarelawan yang dipublikasikan di jurnal Proceeding of the Royal Society A. Hasil analisisnya menunjukkan, kelompok yang lebih besar biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk mencari solusi terhadap suatu krisis atau bahkan menjadi pasif. Hal ini disebabkan sebagian dari anggota kelompok lebih memercayai hoaks/rumor yang membuat kelompok tersebut tidak dapat mengambil keputusan.

Sentimen negatif membuat orang menjadi tidak kreatif untuk mencari solusi memperbaiki keadaan, sebaliknya bahkan akan mendorong ke arah tindakan-tindakan yang akan memperburuk keadaan. Hal ini cocok dengan gambaran konsumen di mana pun juga, yang merupakan kelompok terbesar dalam masyarakat. Untuk itu, ekspektasi masyarakat perlu dibimbing dengan menunjukkan peta jalan yang berisi informasi positif (Isard {1995}).

Dalam pengambilan keputusan ala dynamic optimization di atas, kuncinya adalah kondisi terminal (terminal condition) yang memberikan gambaran bagaimana penanganan darurat kesehatan akan memberikan dampak yang optimal bagi hajat hidup orang banyak di masa depan. Di sinilah fungsi dari kenormalan baru. Dalam perilaku sehari-hari, gambaran masa depan yang positif diperlukan untuk mengurangi ketidakpastian sehingga tidak terjadi perilaku yang kontraproduktif. Di indonesia ada dua kelompok besar yang memengaruhi kondisi perekonomian Nasional, yaitu konsumen dan produsen.

Hajat hidup orang banyak dapat berjalan karena adanya interaksi antara sisi permintaan dan produksi. Sisi permintaan didominasi oleh perilaku konsumsi yang ditentukan tidak hanya oleh cita rasa selera dan pendapatan, tetapi juga oleh ekspektasi masa depan yang ada di benak mereka. Pencegahan penularan Covid-19 di dunia dilakukan dengan membatasi atau bahkan memutuskan untuk sementara interaksi antara sisi permintaan dan produksi dalam perekonomian. Ada negara-negara yang memilih karantina wilayah yang ketat, seperti Italia dan Spanyol.

Sementara itu, beberapa negara, seperti Swedia dan Jepang, termasuk Indonesia (pembatasan sosial berskala besar/PSBB), memilih versi pembatasan yang lebih lunak yang memungkinkan beberapa aspek dari arus pendapatan dan produksi untuk tetap berjalan.

Pembatasan interaksi antara daya beli masyarakat ini dan produksi tak hanya mengakibatkan dampak langsung penurunan transaksi, tetapi juga melalui ekspektasi masyarakat yang terpengaruh oleh darurat kesehatan sehingga mengubah perilaku ekonominya. Hal ini terdeteksi dari indeks keyakinan konsumen (IKK) yang diterbitkan oleh Bank Indonesia. IKK melemah drastis dari 113,8 pada Maret ke 84,8 pada April. Angka ini ada di bawah 100 yang berarti berada di zona pesimistis. Hal ini hanya dapat terjadi jika ada kejadian luar biasa yang memengaruhi set informasi yang memengaruhi ekspektasi masyarakat.

Komponen yang paling terdampak adalah indeks kondisi ekonomi (IKE) yang melemah tajam ke 62,8 pada April, dari 103,3 pada Maret, sebagai akibat penurunan indeks ketersediaan lapangan kerja turun ke 41,2 sebagai akibat banyaknya PHK. Pembatasan interaksi ekonomi sebagai akibat kondisi darurat kesehatan telah memengaruhi masyarakat, baik yang berpendapatan tetap (terutama yang kena PHK) maupun yang mengandalkan pendapatan harian.

Dari segi permintaan konsumsi, pelemahan sentimen berbelanja masyarakat terlihat dari pelemahan pertumbuhan tahunan pengeluaran untuk restoran dan hotel dari 5,64 persen menjadi 2,39 persen pada triwulan I-2020. Apa pun yang dapat ditunda akan ditunda, seperti yang terekam pada pertumbuhan minus 3,29 persen untuk pengeluaran pakaian, alas kaki, dan jasa perawatan. Dalam skala kebutuhan ala Maslow (1943), indeks pembelian barang-barang tahan lama menurun ke 87,3 pada April dan ini akan berdampak pada penundaan konsumsi barang-barang tahan lama, seperti elektronik, furnitur, dan perkakas rumah tangga.

Hal ini sangat terasa dampaknya di beberapa cabang industri manufaktur di triwulan I-2020. Gambaran yang paling mencolok dari perbedaan dunia pra-Covid 19 dengan situasi sekarang terjadi di industri furnitur yang mengalami kontraksi terdalam dengan pertumbuhan minus 7,28 persen, sangat berbeda dengan triwulan I-2019 yang tumbuh 12,89 persen. Berikutnya adalah industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik, dan peralatan listrik, yang mengalami pertumbuhan tahunan negatif, yakni minus 3,52 persen.

Di sisi lain, pesimisme dari sisi produksi ditunjukkan oleh penurunan indeks ekspektasi kegiatan dunia usaha, yang melemah ke 102,3 pada April, dari 126,2 pada bulan sebelumnya. Hal ini dikonfirmasi oleh pengeluaran investasi untuk mesin dan perlengkapan, yang terpuruk dengan pertumbuhan minus 3,62 persen, sangat jauh dibandingkan dengan satu tahun sebelumnya yang 8,40 persen. Hal ini secara keseluruhan mengakibatkan investasi hanya tumbuh 1,97 persen di triwulan I-2020 dibandingkan dengan 5,03 persen tahun lalu. Dampaknya di sisi produksi adalah pada cabang industri mesin dan perlengkapan yang mengalami pertumbuhan minus 9,33 persen, terendah di antara cabang-cabang industri manufaktur yang lain.

Dalam situasi sulit seperti di atas, Indonesia masih dapat menghasilkan pertumbuhan ekonomi tahunan 2,97 persen pada triwulan I-2020. Memang masih berada di bawah pertumbuhan rata-rata 5 persen yang selama ini terjadi, tetapi dalam kondisi darurat kesehatan, tingkat inilah yang masih dapat dicapai sebagai modal survival dan tumpuan pemulihan di waktu mendatang, terutama ketika pertumbuhan di triwulan II dan III masih dalam tanda tanya besar. Untuk memulihkan penghidupan masyarakat di triwulan III-2020 dan seterusnya, diperlukan situasi di mana masyarakat sendiri kembali beraktivitas. Potensi virus ini akan tetap menjadi bahaya laten yang selalu mengintai untuk beberapa waktu ke depan, menjadikan kenormalan baru sebagai konsep keseimbangan antara usaha penanganan darurat kesehatan dan berjalannya roda perekonomian.

Ekonomi kenormalan baru

Bagaimana gambaran struktur perekonomian dengan kenormalan baru sebenarnya sudah tergambar dari publikasi BPS tentang struktur pertumbuhan PDB di triwulan I-2020. Pada intinya, yang akan tetap bertahan, bahkan berkembang, adalah yang memenuhi dasar kebutuhan pokok. Misalnya, pertumbuhan pengeluaran untuk kesehatan dan pendidikan justru meningkat ke 7,85 persen, dari 5,54 persen tahun 2019 (pra-Covid 19). Makanan dan minuman selain restoran relatif tak berubah, bertahan pada 5,10 persen. Demikian juga perumahan dan perlengkapan rumah tangga dengan pertumbuhan 4,47 persen, tak berubah dibandingkan dengan situasi prawabah. Hal ini dimungkinkan dengan maraknya kembali kegiatan memasak di rumah untuk keluarga.

Dari sisi produksi, keinginan masyarakat untuk meningkatkan daya tahan tubuh membawa industri kimia, farmasi, dan obat tradisional ke pertumbuhan 5,59 persen, termasuk yang tertinggi untuk sektor manufaktur. Tidak mau ketinggalan, peningkatan kegiatan daring akibat bersekolah, bekerja, dan belanja dari rumah meningkatkan pertumbuhan sektor informasi dan komunikasi menjadi 9,81 persen, dari 9,06 persen tahun lalu. Sektor-sektor seperti transportasi, perdagangan, hotel dan restoran, termasuk pariwisata yang saat ini paling terpuruk karena mengandalkan transaksi tatap muka serta kehadiran dan pertemuan secara fisik, masih mempunyai harapan besar dalam era normal baru, setelah bentuk penyajiannya ditransformasi sesuai dengan standar operasi kewaspadaan Covid-19.

Wacana kenormalan baru yang belum lama ini digulirkan, merupakan instrumen penyesuaian ekspektasi (expectation realignment) sekaligus kondisi terminal, yang memberikan harapan positif kepada masyarakat karena menunjukkan badai akan berlalu walau waktu persisnya belum ditetapkan. Hal ini terlihat dari minat untuk belanja keperluan hari raya Idul Fitri di pasar tradisional, seperti di Tanah Abang dan pasar malam kagetan, di tengah PSBB. Tren ini tampaknya akan berlanjut setelah Lebaran selesai. Animo masyarakat untuk beraktivitas kembali sebenarnya cukup besar setelah terkungkung di rumah sekian lama, walau dalam implementasinya diperlukan pengendalian kerumunan yang lebih baik untuk mencegah risiko penularan kembali. Daya beli ini dapat dimanfaatkan untuk pemulihan ekonomi dengan memberlakukan perilaku hidup bersih dan sehat secara konsisten. (hjtp)

 

Sumber: Harian Kompas. Edisi: Selasa, 9 Juni 2020. Rubrik Opini.

Leave a Reply