Budi Frensidy: Waspadai Manipulasi Pasar

0

Budi Frensidy: Waspadai Manipulasi Pasar

 

Nino Eka Putra ~ Humas FEB UI

DEPOK – Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal FEB UI, Budi Frensidy merilis tulisan yang dimuat di koran Kontan, Kolom Bursa-Wake Up Call, Halaman 4, pada Senin (3/2/2020) bahwa satu dari sepuluh modul CFA yang diujikan untuk level I hingga III dengan bobot 10%-15% adalah Etika dan Standar Profesional. Ada tujuh standar profesional yang mengikat dan harus dijalankan anggota dan kandidat CFA.

Tujuh standar tersebut meliputi profesionalisme, integritas pasar modal, kewajiban kepada klien, kewajiban kepada perusahaan majikan, analisis investasi & rekomendasi, konflik kepentingan, dan tanggung jawab sebagai anggota/kandidat. Standar integritas pasar modal dibagi lagi menjadi dua yaitu informasi material nonpublik dan manipulasi pasar.

Standar terakhir menarik untuk dikupas dengan mencuatnya kasus Jiwasraya dan Asabri serta merosotnya NAB puluhan reksadana kita. Dalam literatur keuangan dan investasi, kita tidak mengenal istilah saham gorengan yang ramai diperbincangkan belakangan ini tetapi jargon manipulasi pasar sudah ada sejak dulu dan membedah fenomena yang sama dengan apa yang disebut saham berkolesterol tinggi.

Dalam versi aslinya CFA Institute menyatakan, ‘Members and candidates must not engage in practices that distort price or artificially inflate trading volume with the intent to mislead market participants.’ Standar ini melarang manipulasi pasar yaitu praktik-praktik yang mendistorsi harga sekuritas atau volume perdagangan dengan tujuan mengelabui orang atau entitas di pasar.

Manipulasi pasar terjadi di mana-mana (ubiquitous) meskipun di negara maju lebih jarang daripada di negara berkembang. Namun, investasi lintas negara yang dilakukan investor global menghadapi risiko yang meningkat akibat maraknya praktik ini.

“Manipulasi pasar melemahkan fungsi pasar keuangan dan mengganggu efisiensi pasar. Manipulasi pasar juga mengakibatkan merosotnya keyakinan para investor akan kewajaran harga-harga yang terjadi. Turunnya kepercayaan ini membuat investor mengurangi partisipasi mereka di bursa sehingga transaksi harian terkikis. Mereka pun meminta premi risiko pasar yang lebih besar. Rendahnya efisiensi pasar modal domestik dan naiknya premi risiko ini pada akhirnya berdampak negatif terhadap pertumbuhan dan kesehatan perekonomian sebuah negara,” ujarnya.

Manipulasi pasar meliputi diseminasi informasi salah atau palsu dan transaksi yang menipu atau berpotensi menyesatkan pelaku pasar yang memantau pergerakan harga di bursa. Menjamurnya produk, emiten, dan teknologi baru meningkatkan insentif, cara, dan kesempatan untuk manipulasi. Demikian juga dengan kompleksitas pasar yang meningkat dan kecanggihan IT yang tersedia, telah menciptakan sarana baru untuk manipulasi.

Manipulasi Informasi

Manipulasi berbasis informasi meliputi, tetapi tidak terbatas pada, menyebarkan rumor palsu untuk mendorong orang lain bertransaksi. Para pemain besar di pasar negara mana pun telah sejak lama berusaha untuk menyiarkan berita palsu mengenai sebuah perusahaan atau bahkan mengenai keseluruhan pasar untuk membuka jalan mereka mengambil keuntungan.

“Di Amerika Serikat (AS), penny stock yang sering dimanfaatkan untuk tujuan ini. Tidak berbeda dengan di AS, di bursa kita mereka menggunakan saham-saham berkapitalisasi kecil sebagai sasaran. Tidak jarang mereka juga menggunakan media massa besar untuk memviralkan berita palsu itu. Karenanya, lindungi diri Anda dari berita-berita ngawur dengan selalu melakukan konfirmasi berita dan sumbernya sebelum bertindak,” ungkapnya.

Turunan dari berita palsu adalah permainan pump and dump via email dan medsos secara masif. Ini dilakukan para manipulator dengan cara mengirimkan rentetan pernyataan positif dan optimistis mengenai sebuah emiten untuk menarik para pembeli. Taktik memompa (pump) harga ini memakan korban ketika para investor berbondong-bondong ikut membeli saham dimaksud yang mengakibatkan harga dan volume melesat tinggi. Ketika harga sudah terkerek naik puluhan persen bahkan lebih, para pemompa ini pun menjual saham mereka (dump) yang membuat harga ikut terpelanting.

Cara terbaik membentengi diri Anda dari taktik ini adalah dengan menghindari beli saham yang sedang meroket naik. Para trader dan investor gesit yang mampu mengidentifikasi aksi ini tentunya akan mendapatkan keuntungan yaitu dengan membeli di saat harga mulai beranjak naik dan keluar sebelum harga menyentuh titik tertingginya. Ingat, dalam jangka pendek trading di bursa saham adalah permainan zero-sum. Selalu ada saja segelintir pihak yang dapat meraup untung dari kerugian sebagian besar investor lainnya.

Manipulasi Transaksi

Manipulasi ini mencakup aksi dan transaksi untuk mendisrupsi harga atau volume dengan tujuan memberikan sinyal terjadi pergerakan harga dan volume dari sebuah saham. Manipulasi transaksi juga dapat dilakukan dengan mengambil porsi dominan dan controlling dalam sebuah efek agar dapat mengeksploitasi dan memanipulasi harga sekuritas itu.

“Contohnya, menempatkan order beli (jual) dalam jumlah besar tanpa benar-benar bermaksud mau membeli (menjual). Order besar beli (jual) ini akan dibatalkan sebelum munculnya penjual (pembeli). Taktik seperti ini disebut layering atau spoofing the tape. Berbeda dengan layering yang hanya bluffing, taktik lain yaitu wash trading dilakukan para pemain besar dengan membeli dan menjual saham yang sama terus-menerus secara cepat dengan harapan dapat menarik minat para investor naif yang terkecoh dengan tingginya volume perdagangan,” imbuhnya.

Transaksi-transaksi bermodus manipulasi pasar tentunya harus dibedakan dari strategi-strategi yang dihasilkan dari analisis teknikal ataupun yang didasarkan pada persepsi inefisiensi pasar. “Niat awal bertransaksi sangat penting untuk menentukan apakah sebuah transaksi dapat dinamakan manipulasi pasar atau bukan,” tutupnya. (Des)

 

Sumber: Koran Kontan. Edisi: Senin, 3 Februari 2020. Kolom Bursa-Wake Up Call. Halaman 4