Kiki Verico : Strategi Mengejar Kemajuan Ekonomi

Kiki Verico : Strategi Mengejar Kemajuan Ekonomi

Semua negara mau menjadi negara maju dengan pendapatan per kapita tinggi, tapi tak semua negara mampu mencapainya. Banyak negara tertahan dalam kategori negara berpendapatan menengah dengan rentang pendapatan per kapita yang memang panjang, yakni US$ 3.996-12.375. Lalu bagaimana caranya agar bisa lulus dari kategori negara berpendapatan menengah? Ada strategi ideal tapi sulit dan butuh waktu lebih dari 20 tahun. Ada pula strategi praktis, tidak lebih mudah, tapi lebih realistis. Apa itu?

Strategi sulit adalah membangun sektor manufaktur sebagai sumber pertumbuhan ekonomi dan devisa negara. Membangun manufaktur membutuhkan kestabilan nilai tukar mata uang lokal terhadap dolar Amerika Serikat. Jepang dan Korea Selatan merasakan percepatan pembangunan manufaktur lokal ketika nilai tukar dunia masih tetap (fixed exchange rate), sementara Cina mempercepat pembangunan manufaktur ketika nilai tukar dunia sudah bersifat mengambang (flexible exchange rate), tapi nilai tukar yuan terhadap dolar Amerika cenderung tetap.

Selain oleh kestabilan nilai tukar, akselerasi manufaktur ditentukan oleh kekuatan riset industri dan kemampuan mengolah bahan mentah menjadi barang jadi atau setengah jadi. Sebuah produk, katakanlah mobil, terdiri atas lebih dari 4.000 komponen dan melibatkan setidaknya 25 negara untuk membuatnya.

Lalu apa yang membuat sebuah negara bisa dikatakan sebagai produsen mobil nasional? Jawabannya terdiri atas tiga unsur: negara memproduksi bagian termahal, menikmati nilai tambah tertinggi, dan menjadi investor terbesar dalam proses produksi. Alokasi investasi terbesar adalah riset dan pengembangan. Sebuah negara dikatakan menguasai manufaktur produk tertentu bila menguasai riset dan teknologi tertinggi dari rantai teknologi produk tersebut. Tentu ini tidak mudah karena sangat mahal dan memakan waktu lama.

Strategi praktis adalah membangun sektor pertanian dan industri pertanian sebagai sumber devisa serta sektor jasa sebagai sumber pertumbuhan ekonomi. Dua hal ini dipisah karena menjadikan sektor jasa sebagai sumber devisa sama sulitnya dengan menguasai manufaktur dunia. Data menunjukkan, sepanjang waktu, sektor jasa Indonesia mengalami defisit karena sumber utama penerimaan devisa dari turis asing tidak mampu menutupi defisit jasa pengangkutan, komunikasi, dan keuangan internasional.

Untuk sumber devisa, lebih mudah bagi Indonesia untuk mengembangkan daya saing pertanian, perikanan, perkebunan, dan industri turunannya, seperti makanan dan minuman. Sebab, beberapa jenis makanan, bumbu, dan minuman kemasan Indonesia sudah menguasai pasar dunia. Adapun untuk sumber pertumbuhan, karena 59 persen ekonomi Indonesia adalah konsumsi, Indonesia dapat mengoptimalkan peran sektor perdagangan dan jasa transportasi melalui sentuhan teknologi digital pada perdagangan (e-commerce), transportasi online, dan keuangan (fintech).

Ihwal sumber daya manusia, saat ini yang dibutuhkan oleh digital platform adalah ketersediaan ahli teknologi informatika dan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Ketersediaan ahli di bidang ini layak menjadi salah satu fokus pengembangan SDM di Indonesia.

Dunia menyaksikan fenomena negara dengan pertumbuhan ekonomi di atas 10 persen dan rata-rata laju inflasi sekitar 7 persen karena menguasai manufaktur dunia, seperti Jepang, Korea Selatan, dan Cina. Di sisi lain, dunia juga menyaksikan negara yang tumbuh pada kisaran 5-7 persen dengan laju inflasi 3-5 persen tapi tetap bisa menjadi negara berpendapatan tinggi melalui sektor primer dan jasa, seperti Australia dan Selandia Baru.

Untuk mencapai kategori negara berpendapatan tinggi, persoalannya tidak bergantung pada sektor ekonomi, melainkan indikator sumber daya manusia atau Human Development Index (HDI) dan kualitas institusi (good governance) di negara tersebut. Data HDI 2018 menunjukkan bahwa Australia, Selandia Baru, Jepang, dan Korea Selatan masuk kategori Very High Human Capital Development dengan peringkat Australia dan Selandia Baru berada di atas Jepang dan Korea Selatan. Cina masuk kategori High, sedangkan Indonesia Medium. Dari peringkat Ease of Doing Business (EODB), sebagai salah satu proksi kualitas institusi, juga terlihat bahwa, misalnya, Selandia Baru mengandalkan sektor ekonomi non-manufaktur tapi berada di peringkat pertama EODB dunia, bahkan dalam tiga tahun berturut-turut.

Pada akhirnya, kemajuan-pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita-bukan soal sektor ekonomi semata, melainkan bagaimana kualitas SDM dan institusinya.

 

Kiki Verico
Wakil Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia

Sumber : Tempo.co