Manfaat Big Data untuk Perkembangan Ekonomi Terapan

Manfaat Big Data untuk Perkembangan Ekonomi Terapan

 

Nino Eka Putra ~ Humas FEB UI

DEPOK – Program Pascasarjana Ilmu Ekonomi (PPIE) FEB UI mengadakan Kuliah Tamu dengan topik pembahasan “Perkembangan Terkini dalam Empiris Ekonomi Terapan: Sebuah Ulasan” yang bertempat di Auditorium KKI, Rabu (25/9/2019).

Professor Arndt-Corden Department of Economics Australian National University, Budi P. Resosudarmo memaparkan bahwa dalam menganalisis ekonomi tentu memerlukan big data yang merupakan istilah umum untuk data digital skala besar yang terus menerus dikumpulkan dari populasi global melalui pemanfaatan teknologi digital. Di dalamnya berisi informasi yang berkaitan dengan perilaku dan interaksi manusia dan terdapat 3 nilai, yaitu volume, kecepatan, dan variasi.

Kemajuan digitalisasi di dunia khususnya Indonesia membuat koneksi internet terus berkembang sejak kedatangannya di pertengahan tahun 90-an, pada 2005 terdapat 8 juta orang yang terhubung ke internet dan mengalami kenaikan sebesar 56 juta pada 2015, Tingkat penetrasi tahun 2005 tumbuh dari 3,6% menjadi 22% pada 2015.

Sementara itu, tantangan digitalisasi di Indonesia tidaklah universal. Hal ini disebabkan oleh 95% konektivitas rendah dari semua perusahaan tidak terhubung ke internet (BPS, 2017). Di seluruh sektor, infrastruktur Indonesia yang mendukung Teknologi Informasi tertinggal dari negara maju & negara lain (Das, et al, 2015). Mayoritas pengguna internet di Indonesia berlokasi di Pulau Jawa.

“Pemanfaatan internet telah membantu UMK untuk terlibat dalam ekonomi digital dan meningkatkan kinerjanya. Penyerapan internet meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan ekspor. Keuntungan yang diperoleh terkait pemanfaatan internet sama dengan Rp1,34 juta per pekerja per bulan. Dengan sekitar 1 juta pekerja, jumlahnya setara dengan 16,9 miliar per tahun atau 15,4% dari RGDP Yogyakarta pada tahun 2016,” imbaunya.

Misalnya, email dan media sosial merupakan platform yang secara signifikan membantu perusahaan untuk terlibat dalam ekonomi digital dan mendapatkan manfaat. Hasil ini menggembirakan karena email dan media sosial relatif mudah diakses menggunakan smartphone dan tidak memerlukan kecakapan teknologi.

Oleh karena itu, hambatan untuk berpartisipasi dalam ekonomi digital relatif rendah. “Bukti dari ini memberikan pembenaran yang lebih kuat untuk mengembangkan kebijakan publik yang bertujuan untuk meningkatkan ketersediaan internet berkualitas baik serta mendorong penggunaan internet oleh perusahaan di negara-negara berkembang,” tutupnya. (Des)