PEBS FEB UI Ikut Berpartisipasi dalam Bedah Buku “Desa Development Index”

PEBS FEB UI Ikut Berpartisipasi dalam Bedah Buku “Desa Development Index”

 

Ristiyanti Hayu Pertiwi ~ PEBS FEB UI

DEPOK – Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia bekerjasama dengan Dompet Dhuafa menyelenggarakan acara Bedah Buku “Desa Development Index” yang berlangsung di Aula Student Center, pada Sabtu (22/12/2018).

Acara ini diselenggarakan dengan tujuan untuk menyebarkan wawasan terkait riset yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa mengenai indeks desa di Indonesia. Acara dibuka oleh sambutan dari Jossy P. Moeis, Ph.D. selaku peneliti senior dari PEBS FEB UI. Kemudian, dilanjutkan dengan diskusi yang dimoderatori oleh Amin Sudarsono selaku editor dari buku Desa Development Index.

Dr. Tjuk Kasturi Sukiadi selaku penggagas dari penyusunan buku Desa Development Index yang saat ini menjabat sebagai dosen di FEB Universitas Airlangga mengungkapkan keinginannya untuk memotret desa sebagai fenomena yang dibanjiri dengan dana dari pusat, juga potret pergulatan sosial, ekonomi, politik, budaya, dan pertahanan keamanan. Desa yang dipotret tersebut diharapkan bisa menjadi model sebuah desa madani.

Selain itu, penelitian ini juga dilatarbelakangi data BPS per September 2017 menunjukkan bahwa dari 26,58 juta penduduk miskin Indonesia, 16 juta di antaranya tinggal di desa. “Jadi, kemiskinan identik dengan desa. Oleh karena itu, permasalahan yang ada di desa sangat kompleks, mulai dari ekonomi, kesehatan, hingga pendidikan dan kebudayaan. Prawacana inilah yang mengantarkan kelahiran buku Desa Development Index,” ucap Tjuk Kasturi Sukiadi.

M. Sabeth Abilawa, M.E. selaku Direktur Program Dompet Dhuafa dan penulis dari buku Desa Development Index juga mengungkapkan bahwa pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan desa adalah aksi nyata dalam pengamalan Pancasila dan Dompet Dhuafa (DD) telah berupaya untuk melakukannya.

“Beberapa fenomena yang ada di desa antara lain brain drain, industrialisasi desa, dan kosep prophetic socio technopreneurship,” kata M. Sabeth Abilawa.

Rahmatina A. Kasri selaku Kepala PEBS FEB UI menambahkan bahwa kontribusi buku Desa Development Index sebagai tambahan referensi akademik, rekomendasi kebijakan kepada pemangku kepentingan, kompilasi data tingkat desa, serta dasar untuk potensi riset lanjutan terkait implementasi tools Desa Development Index.

“Beberapa hal yang perlu dikonsiderasikan (things to ponder) seperti konsep pengembangan desa di Taobao Village, Republik Rakyat Cina,” tutup Rahmatina A. Kasri sebagai pemateri terakhir dalam bedah buku ini. (Des)