Prof Muhammad Iksan , Guru Besar Ekonomi : Impor Harusnya Sejak Oktober, REPUBLIKA 21 Januari 2018

REPUBLIKA

21 Januari 2018

Guru Besar Ekonomi : Impor Harusnya Sejak Oktober

 

JAKARTA – Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI), Prof Muhammad Iksan menyatakan, pemerintah terlambat melakukan impor beras. Impor seharusna dilakukan pemerintah pada Oktober 2017 saat harga beras mulai perlahan naik.

Namun, anggota Tim Ahli Wapres yang juga ahli pemberasan dan statistik ini menyatakan, saat itu Kementerian Pertanian ngotot menyatakan produksi beras mencukupi. “Akhirnya kita baru lakukan impor ketika stok beras sudah mulai menipis dan harga naik,”kata Iksan di Jakarta, Sabtu(20/1).

Iksan menyatakan, mudah-mudahan keterlambatan impor ini tidak membuat masyarakat dirugikan karena harga beras yang tidak turun-turun. “Mudah-mudahan juga impor beras sebanyak 500 ribu ton cukup untuk memenuhi kekurangan produksi beras nasional,”ujarnya.

Terkait dengan klaim beberapa daerah yang menyatakan produksi beras cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional, Iksan meragukannya. Ia menilai, kalau memang produksi beras nasional cukup, bias untuk memenuhi kebutuhan daerah lain.

Ia mencontohkan, untuk memenuhi permintaan di Sulawesi saja, prosuksi beras nasional tidak cukup. Bahkan , jangankan untuk daerah luar Jawa sendiri produk beras nasional saat ini tidak mencukupi.

Iksan member logika sederhana soal stok beras. Harga beras yang tinggi saat ini tidak bias berbohong untuk menggambarkan stok beras nasional yang kurang.”Harga yang naik itu menggambarkan bahwa stok beras memang tidak memadai.”

Menurut dia, pemerintah selama ini tidak mengimpor beras karena menggunakan data yang disampaikan oleh Kementan. Kementan beralasan kosumsi beras per kapita dari waktu ke waktu mengalami penurunan. Karena itu, produksi beras nasional saat ini dianggap sudah mencukupi.

Namun, kata Iksan, Kementan lupa bahwa penurunan kosumsi per kapita beras tidak mampu menutupi kenaikan kosumsi beras yang disebabkan kenaikan jumlah penduduk. Penurunan kosumsi beras nasional, termasuk karena penambahan jumlah penduduk Indonesia setiap tahunnya.

Dari Solo dilaporkan, Gubernur Provinsi Jateng Ganjar Pranowo menegaskan bahwa wilayahnya tidak memerlukan beras impor karena memasuki musim panen. “Kami tidak perlu beras impor, kasih saja ke daerah lain yang membutuhkan.” Kata Ganjar, sabtu.