Dapatkah Uang Membeli Kebahagiaan? Suatu Analisis Hubungan Pendapatan dan Kebahagiaan di Indonesia

DEPOK – Program Pascasarjana Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia menyelenggarakan sidang terbuka Promosi Doktor Theresia Puji Rahayu (1106126333), di ruang Auditorium Kelas Khusus Internasional, pada Senin (15/1/2018).

Ketua sidang Prof. Dr. Robert Simanjuntak, dengan pembimbing, Prof. Dorodjatun Kuntjoro Jakti, Ph.D., (Promotor), Dr. Mahyus Ekananda (Ko- Promotor 1). Selaku tim penguji, Prof. Nachrowi Djalal, Ph.D., Sugiharso Safuan, Ph.D., Teguh Dartanto, Ph.D., Sudarno Sumarto, Ph.D., dan Arie Damayanti, Ph.D.

Judul disertasi yang diangkat mengenai “Dapatkah Uang Membeli Kebahagiaan? :Suatu Analisis Hubungan Pendapatan dan Kebahagiaan di Indonesia”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pendapatan dan kebahagiaan di Indonesia. Penghasilan dipisahkan menjadi pendapatan absolut dan pendapatan referensi. Studi ini juga membahas masalah pendapatan endogenitas dan keragaman etnis di Indonesia. Dengan menggunakan data dari Indonesian Family Life Survei (IFLS) wave 4 dan wave 5 serta 4 teknik estimasi probit dengan dua variabel instrumental, jumlah jam kerja dan status pekerjaan, penelitian mendapatkan hasil estimasi sebagai berikut.

Pertama, pendapatan berhubungan positif dengan kebahagiaan baik untuk orang Indonesia pada umumnya maupun masyarakat etnis tertentu. Artinya penghasilan tetap menjadi faktor penting bagi kebahagiaan orang Indonesia. Selain itu ada indikasi Easterlin Paradox di Indonesia, meski dalam jangka pendek. Kedua, rujukan pendapatan tidak berhubungan dengan kebahagiaan. Ketiga, mengingat keragaman etnis di Indonesia, tidak ada perbedaan kebahagiaan diantara berbagai kelompok etnis. Penghasilan positif mempengaruhi kebahagiaan orang Jawa, Sunda dan Bali. Orang Bali paling bahagia saat pendapatan mereka meningkat. Pendapatan rujukan juga tidak terkait dengan kebahagiaan orang dalam tiga kelompok etnis. Variabel penting lainnya yang bisa disebutkan adalah kepercayaan etnik dan kepercayaan sesama. Orang yang lebih percaya pada etnis mereka yang sama akan lebih cenderung lebih bahagia.

Sementara orang yang lebih percaya kepada tetangga akan mendapatkan penurunan kebahagiaan yang lebih kecil. Dari karakteristik demografis diketahui bahwa umur dan kebahagiaan memiliki hubungan kurva “berbentuk U”. Kebahagiaan tidak berbeda antara pria dan wanita dan menjadi kepala rumah tangga atau tidak. Tapi orang yang sudah menikah cenderung lebih bahagia dan tinggal di daerah perkotaan membuat orang tidak bahagia. Penghasilan adalah hal yang penting bagi kebahagiaan orang Indonesia. Pemerintah dapat memusatkan perhatian pada penerapan kebijakan inklusif pendapatan untuk meningkatkan kebahagiaan masyarakat Indonesia.

Dengan demikian, Dewan Pimpinan sidang terbuka promosi doktor memutuskan, Theresia Puji Rahayu (1106126333) dinyatakan lulus dengan predikat “Memuaskan” dan berhasil mendapat gelar Doktor yang ke-97. Semoga gelar yang diperoleh berguna bagi masyarakat, lingkungan kerja, bangsa, negara, dan khususnya untuk keluarga tercinta.

Humas FEB UI,

2018

Leave a Reply